niiuc06
Matahari berdiri tinggi, sinarnya membakar, mencerminkan keadilan yang hanya milik mereka yang berkuasa. Hukum tak lagi pedang bermata dua, melainkan belati yang menusuk mereka yang tak bersuara.
Seseorang berdiri di bawah langit terik, tubuhnya penuh luka pengabdian. Namun, pengorbanannya tak cukup melindungi satu-satunya cahaya dalam hidupnya.
"Kecelakaan," mereka berkata.
"Kelalaian," mereka menghakimi.
Tapi ia mencium kebohongan.
Matahari itu harus jatuh. Jika keadilan harus ditebus dengan darah, biarlah tangannya yang menodainya. Dalam sunyi, ia menarik pelatuk-dan menembak jatuh matahari.