ceptybrown
Vicenzo Dimitri, seorang CEO muda yang tampan, sukses, dan perfeksionis, selalu percaya bahwa cinta harus datang dari pilihannya sendiri. Karena itulah, ia menolak mentah-mentah perjodohan yang diatur sang kakek dengan putri sahabat lamanya.
Alasannya sederhana... hanya karena sebuah foto.
Di dalam foto itu, Arlita terlihat bertubuh gemuk. Bagi Vicenzo, wanita itu sama sekali bukan tipe idealnya. Ia bahkan berulang kali meminta sang kakek membatalkan pernikahan tersebut.
Namun, sang kakek bersikeras.
"Dalam hidup, wajah akan berubah. Tapi hati yang baik akan menjadi rumah paling nyaman."
Dengan berat hati, Vicenzo akhirnya menikahi Arlita. Ia bertekad menjalani rumah tangga itu hanya sebagai formalitas. Tidak ada cinta, tidak ada perhatian, apalagi harapan.
Tetapi semuanya berubah sejak hari pertama mereka tinggal serumah.
Arlita tak pernah memaksa Vicenzo mencintainya. Ia hanya melakukan satu hal sederhana-memasak.
Setiap pagi, siang, dan malam, meja makan selalu dipenuhi hidangan hangat buatan Arlita. Anehnya, Vicenzo yang awalnya hanya berniat mencicipi, justru mulai ketagihan. Tak ada restoran bintang lima yang mampu menandingi rasa masakan istrinya.
Lambat laun, bukan hanya lidahnya yang terpikat.
Senyum tulus Arlita, perhatian kecil yang tak pernah meminta balasan, serta keteguhan hatinya perlahan meruntuhkan tembok kesombongan Vicenzo. Ia mulai mencari-cari keberadaan sang istri, menunggu kepulangannya, bahkan merasa hari-harinya hambar jika belum mencicipi masakan Arlita.
Saat Vicenzo akhirnya menyadari bahwa ia telah jatuh cinta sepenuh hati, Arlita justru memilih menjaga jarak. Luka akibat penolakan di awal pernikahan membuatnya tak lagi berharap.
Kini, sang CEO yang dulu menolak perjodohan itu harus berjuang mati-matian mengejar hati istrinya sendiri.
Karena ternyata... cinta sejati tidak pernah diukur dari bentuk tubuh, melainkan dari ketulusan yang mampu menghangatkan hati, layaknya sepiring masakan yang dibuat dengan penuh kasih.