rezkifajriansyah
PROLOG: Lompatan Terakhir
Di Sulawesi Selatan, di lereng Gunung Bawakaraeng yang diselimuti kabut, hiduplah seorang pemuda yang tidak pernah takut ketinggian. Sejak kecil, Daeng Rafendra Tandilalang bisa melompat lebih tinggi dari anak-anak seusianya. Saat yang lain hanya bisa melompat setinggi pagar bambu, ia melompat hingga menyentuh dahan pohon jambu. Saat yang lain berhenti di atap rumah, ia melompat hingga bisa melihat laut dari balik bukit.
*Orang-orang desa menganggapnya angkuh. Anak muda yang suka pamer. Tapi Tandilalang tidak peduli. Ia tidak melompat untuk pamer. Ia melompat karena ingin melihat lebih jauh. Karena di setiap lompatan, ia merasakan sesuatu yang tidak bisa dijelaskan - seperti ada tangan tak terlihat yang mendorong kakinya ke atas, seperti ada suara yang berbisik, "Kau bisa lebih tinggi lagi."
Dan saat ia melompat tertinggi dalam hidupnya, melampaui puncak pohon, melampaui kabut, hingga awan-awan di bawahnya, ia melihat sesuatu yang tidak seharusnya dilihat oleh mata biasa. Garis-garis cahaya yang membentang di seluruh Sulawesi. Garis-garis yang putus di satu titik di pegunungan.
Ia tidak tahu itu apa. Tapi ia tahu, ia harus pergi ke sana.
Tanpa sepatu, tanpa bekal, tanpa pamit, Tandilalang berlari menuju titik di mana cahaya itu putus.
Di belakangnya, desa semakin kecil. Di depannya, hutan semakin gelap.
Dan di dalam dadanya, Warisan Darah mulai berdenyut untuk pertama kalinya.