gajahmerona
perjalanan ini dimulai dari kota ain sefra, yang tandus dan penuh dahaga, akhirnya turun salju yang membuat kebahagiaan bagi warga setempat. namun, salju itu telah dinantikan selama empat dekade oleh mereka, sebelum nya mereka bak ikan koi tanpa boba di kelilingi kelompok kalajengking yang siap menyerang dengan racun racun pemikiran kolonial, hingga akhirnya aku bertemu dengan seorang anak lelaki bernama pijar. ia berkata "bisakah terus mengobati, walau membiru? cukup besar 'tuk mengampuni tuk mengasihi, tanpa memperhitungkan masa yang lalu, walau kering, bisakah kita tetap membasuh?" merinding bulu jaketku, tak dapat aku berlalu dibuatnya, bak kepala supra x bergetar, "grrrr". tanpa berpikir panjang ku ulurkan jemari ku ke depan mengantisipasi bunyi-bunyian sember yang menganggu perjalanan ku menuju ruang manifesto.