Pondok Stories

Refine by tag:
pondok
WpAddjasa
WpAddaren
WpAddsofa
WpAddcuci
WpAddlabu
WpAdddị
WpAddpinang
WpAddgede
WpAddharga
WpAddcleaning
WpAddtangerang
WpAddselatan
WpAddtimur
WpAddterdekat
WpAddkopi
WpAddindah
WpAddkelapa
WpAddterapi
WpAddkambing
pondok
WpAddjasa
WpAddaren
WpAddsofa
WpAddcuci
WpAddlabu
WpAdddị
WpAddpinang
WpAddgede
WpAddharga
WpAddcleaning
WpAddtangerang
WpAddselatan
WpAddtimur
WpAddterdekat
WpAddkopi
WpAddindah
WpAddkelapa
WpAddterapi
WpAddkambing

1.2K Stories

  • Sepasang Sepatu by dientasuryani
    dientasuryani
    • WpView
      Reads 39
    • WpPart
      Parts 3
    "Tidak semua yang kita cintai ditakdirkan untuk menjadi milik kita." Kanaya Putri percaya bahwa doa mampu mengubah segalanya. Hingga suatu hari, ia dipaksa menerima kenyataan bahwa orang yang paling ia harapkan justru memilih berjalan bersama orang lain. Belum sempat hatinya benar-benar pulih, sebuah pilihan yang jauh lebih rumit datang menghampiri. Bertahan pada perasaan yang perlahan melukainya, atau mengikhlaskan semuanya demi sesuatu yang belum mampu ia pahami. Di tengah luka, kecewa, dan pencarian akan makna cinta, Kanaya mulai menyadari bahwa takdir tidak selalu datang sesuai keinginan. Kadang, Allah mengambil apa yang paling kita inginkan untuk menggantinya dengan sesuatu yang benar-benar kita butuhkan. Seperti sepasang sepatu. Tak akan pernah terasa nyaman jika dipaksakan dengan pasangan yang bukan miliknya. Lalu, siapakah pasangan yang sebenarnya telah Allah siapkan untuk Kanaya? by dienta suryani.
  • tentang kamu yang belum selesai by PipinWindriani
    PipinWindriani
    • WpView
      Reads 381
    • WpPart
      Parts 43
    Lima tahun berlalu, tetapi sebuah tasbih kecil masih tersimpan rapi di dalam laci meja milik seorang mahasiswi yang tak pernah benar-benar bisa melupakan masa lalunya. Tasbih itu adalah kenangan terakhir dari Raka-laki-laki pendiam yang ia kenal di pondok pesantren saat SMP. Di tengah suasana pondok yang sederhana, keduanya tumbuh dalam diam. Raka, dengan luka keluarga yang tak pernah benar-benar sembuh, perlahan menemukan tempat pulang dalam diri gadis yang selalu mendengarkan ceritanya. Sementara itu, tanpa disadari, perhatian-perhatian kecil Raka mulai memenuhi hari-harinya. Dari tahajud jam tiga pagi, lagu Sajadah Merah yang selalu mengingatkan pada kenangan pondok, hingga tasbih yang menjadi simbol perasaan mereka yang tak pernah terucap. Semua terasa sederhana, namun membekas begitu dalam. Namun waktu memaksa mereka berpisah tanpa janji dan tanpa kepastian. Kini, setelah bertahun-tahun kehilangan kabar satu sama lain, hanya kenangan yang tersisa. Tetapi di dalam hati kecilnya, masih ada satu pertanyaan yang terus hidup: apakah seseorang yang pernah begitu berarti akan benar-benar hilang, atau Tuhan hanya sedang menunda pertemuan mereka? 😭