NURHIDA22
Di bawah langit Majapahit yang begitu megah, di puncak kejayaan yang dipuji seantero Nusantara, segala sesuatu tampak sempurna. Istana berkilauan, adat dijaga sakral, dan nama Gajah Mada menjadi simbol kekuatan yang tak tergoyahkan. Namun, tak semua suara terdengar di pendopo agung. Tak semua kebenaran tertulis di dalam prasasti atau dokumen kerajaan.
Dewi Kirana, putri seorang Mahamantri terhormat, hidup di dalam lingkaran emas yang melindunginya dari segala kepahitan dunia. Dari menara tertinggi istana, ia hanya melihat keindahan dan kedamaian. Namun, perlahan namun pasti, ia mulai mendengar bisik-bisik samar yang tak seharusnya didengar telinga bangsawan tentang pajak yang mencekik leher petani, tentang tanah yang dirampas demi ambisi perluas wilayah, tentang pengorbanan rakyat kecil yang dianggap tak berharga di hadapan kemegahan negara.
Di sisi lain, Rangga seorang ksatria kelahiran rakyat biasa yang mengangkat pedang demi kesetiaan mulai mempertanyakan: untuk siapa sebenarnya ia berjuang? Apakah untuk keadilan, atau hanya untuk kekuasaan mereka yang duduk di atas takhta? Ketika perintah atasan bertentangan dengan suara nurani, ia terjebak di antara kehormatan setia dan kemanusiaan yang kian terabaikan.
Keduanya tumbuh di dunia yang mengajarkan: kekuatan harus dibangun di atas pengorbanan. Namun mereka mulai sadar, harga yang dibayar mungkin terlalu mahal. Ketika intrik politik mulai merayap di balik tembok istana, ketika kebenaran mulai tersembunyi di balik senyum sopan dan kata-kata manis, Kirana dan Rangga harus memilih: tetap diam dalam kenyamanan kemegahan, atau berani menjadi suara bagi mereka yang tak punya suara meski nyawa menjadi taruhannya.
Karena di sanalah, di balik kemegahan yang mempesona, tersembunyi kebisingan yang perlahan meledak. Sebuah kisah tentang keberanian, keadilan, dan pertanyaan abadi: Apakah persatuan yang dibangun di atas penderitaan, layak disebut kejayaan?