sabrinavague
Di depan sebuah rumah yang tak pernah benar-benar sunyi, asap rokok pernah naik pelan, menemani seorang paman yang duduk setia menatap pepohonan mangga, meski dunia di hadapannya perlahan memudar. Ia tegas, jarang bicara panjang, tapi menyimpan kasih dalam cara-cara sederhana: mengusir keributan, memanggil dengan kata sayang, dan hadir tanpa banyak tuntutan.
Kepergiannya membuka kembali ingatan-ingatan kecil yang dulu dianggap biasa-tatapan yang menyipit, langkah ayah yang sering menemani sore, dan diam-diam keluarga yang saling menjaga tanpa pernah mengumumkannya. Dari kehilangan itu, tersingkap kenyataan tentang tubuh yang rapuh, penyakit yang berjalan pelan, dan cinta yang bekerja tanpa suara.
Ketika Asap Belajar Pergi adalah cerpen tentang duka yang tenang, tentang keluarga yang mencintai dengan cara yang canggung, dan tentang kesadaran yang datang terlambat namun jujur: bahwa hidup bukan untuk diabaikan, dan tubuh bukan sekadar tempat singgah, melainkan sesuatu yang pantas dirawat-karena pernah ada yang hilang saat kita terlalu lama menganggap semuanya baik-baik saja.