Tataaa_10
"Katanya, kita yang menulis takdir sendiri. Tapi kalau begitu, siapa yang menulis bagian paling menyakitkan dalam hidupku?"
Bagi Arunika, hidup adalah rentetan ujian yang seolah tak pernah ada habisnya. Mulai dari beasiswa yang dicabut, rahasia penyakit yang mengintai, kegagalan akademik, hingga pengkhianatan dari orang-orang terdekat. Ia harus memakai topeng setiap saat hanya ketika kesunyian malam yang akan membuka topengnya. Ketika batas kesabarannya diuji habis-habisan, Arunika harus memilih: terus mempertanyakan takdir atau belajar berdamai dengan lembaran hidup yang belum selesai ia baca.
Akankah Arunika menemukan jawaban atas luka-lukanya? Ataukah Lauhul Mahfuz memang menyimpankan akhir yang tak pernah ia sangka?