CraymoreRavens
Tegar dan Winda kenal sejak sebuah panci jatuh berdebum di dapur rumah baru, dan anak perempuan lima tahun malah asyik mengejar sumber suara ketimbang menyerahkan sepiring kue lapis dengan benar.
Sejak hari itu, takdir seolah iseng. TK, SD, SMP, sampai SMA-mereka selalu berada di sekolah yang sama. Terus berjalan berdampingan seolah itu hal paling natural di dunia.
Winda tahu persis kapan perasaannya tumbuh. Yang dia tidak tahu adalah cara mematikannya. Terjebak dalam jarak sedekat ini membuat Winda harus rela jadi penonton VIP: setiap kali Tegar jatuh cinta, patah hati, lalu pulang dengan senyum lelah sambil bergumam, "Untung ada kamu, Win." Tegar tak pernah tahu, empat kata itu menghancurkan sekaligus menghidupkan Winda di saat bersamaan.
Di sisi lain, Tegar adalah si cowok logis yang selalu punya jawaban. Dia jago membaca situasi dan menebak pikiran orang dari hal-hal sepele. Anehnya, pola paling jelas di depan mata-perempuan yang selalu ada di sebelahnya sejak kelas satu SD-baru terbaca bertahun-tahun kemudian, tepat setelah dia tiga kali gagal mempertahankan perempuan yang "cocok di atas kertas".
Lalu, kuliah memisahkan mereka. Tegar ke Bandung, Winda ke Jakarta. Mereka pikir jarak ratusan kilometer bisa menjernihkan segalanya. Salah besar.
Jarak justru menelanjangi ketakutan terbesar mereka. Karena ini bukan sekadar soal dua sahabat yang gengsi bilang suka. Ada sejarah dua keluarga yang terlalu berharga untuk dipertaruhkan. Ada lingkaran pertemanan yang pernah hancur karena cinta yang berujung bencana, dan bayang-bayang itu terus menghantui.
Kadang, bertahan sebagai sahabat menuntut kebohongan yang paling rapi. Tapi, sampai kapan mereka sanggup terus memalingkan wajah, ketika orang yang paling dekat ternyata adalah satu-satunya rumah yang paling ingin mereka tuju?