hidayatwetep
"Ayah pergi di hari yang paling ia cintai. Jumat."
Sejak ayah meninggal karena serangan jantung saat sujud di masjid, setiap hari Jumat menjadi mimpi buruk bagi sang anak. Rasa sesak, rindu, dan kehilangan menyelimuti hidupnya selama setahun penuh. Ia harus belajar hal-hal sederhana yang dulu selalu dilakukan ayah: menanak nasi, mengganti token listrik, hingga memperbaiki keran bocor.
Tapi di hari tepat satu tahun kepergian ayah, ia menemukan sepucuk surat kecil di saku kemeja putih favorit ayah. Sebuah pesan yang ditulis di waktu mustajab hari Jumat, yang mengubah seluruh kesedihannya menjadi cahaya.
"Jangan sedih terus. Ayah pergi di hari terbaik, di tempat terbaik. Itu lebih dari cukup."
Sebuah cerpen mengharukan tentang kehilangan, doa yang tak pernah putus, dan belajar mencintai kembali hari yang paling menyakitkan.