mylsalisha
"Gimana, Man? Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam, Yud. Kayaknya... aku nggak sanggup baca chat-mu. Gimana kalau kita langsung ketemuan aja? Aku cerita dari awal tentang aku sama Runa."
Hening sejenak.
"Sampai adegan suap-suapan siomay itu?"
Aku mengangguk kencang dengan bodohnya, padahal ini panggilan telepon dan dia tidak mungkin melihatku. Gugup menyadari Yudha melemparkan kalimat itu untuk sarkasme.
"Iya... sampai siomay."
Mampus. Sebentar lagi riwayatku di rohis resmi selesai.
---
Aruna selalu mengira cinta adalah sesuatu yang tidak akan tumbuh di tanah miliknya. Jika suatu hari perasaan itu datang, ia yakin dialah yang harus menanam, menyirami, dan merawatnya seorang diri.
Sampai Salman datang. Seorang Wakil Ketua Umum lembaga dakwah kampus yang tegas, disiplin, dikagumi banyak orang, dan entah bagaimana justru memilih Aruna untuk menjadi seseorang yang ia dekati. Kemudian Runa jatuh suka, karena di luar yang Runa tau, ternyata dia adalah sosok yang sangat menyenangkan.
Mereka sama-sama tahu batasnya.
Hanya saja, mengetahui mana yang benar dan mampu memilihnya ketika hati sedang jatuh cinta adalah dua perkara yang berbeda. Maka, bagaimana kalau perasaan ini sudah terlanjur dirajut dengan simpul-simpul yang keliru? Akankah Ar-Rahim akan memberikan jalan?