khansacakai
Kristal adalah mahasiswi STAI Jakarta yang dikenal sebagai gadis ramah dan kuat. Dengan alat bantu dengar yang selalu terpasang di telinga kirinya karena kehilangan pendengaran pada satu telinga, ia menjalani hari-harinya seperti mahasiswa pada umumnya. Ia tersenyum saat bercanda bersama teman-temannya, tersenyum di depan kedua orang tuanya, tersenyum di hadapan saudara-saudaranya, bahkan tersenyum ketika hidup terasa begitu berat karena susah nyambung ketika diajak ngobrol bersama.
Dalam hatinya selalu berkata, "Gapapa, gapapa"
Tidak ada yang tahu bahwa di balik senyum itu, Kristal menyimpan begitu banyak luka, kesepian, dan kelelahan yang tidak pernah ia ceritakan kepada siapa pun.
Siang hari adalah panggung tempat ia berpura-pura kuat.
Namun malam hari adalah saat semua topeng itu runtuh.
Setelah menunaikan sholat, Kristal selalu menengadahkan kedua tangannya dalam doa. Di hadapan Allah, ia tidak perlu berpura-pura. Ia menangis dalam sujudnya, mengadu tentang rasa lelah yang terus ia sembunyikan, tentang hati yang sesak, tentang impian yang belum tercapai dan tentang dirinya yang perlahan kehilangan kekuatan untuk terus terlihat baik-baik saja.
Malam demi malam, air mata menjadi teman tidurnya. Ia memejamkan mata dengan pipi yang basah, berharap esok hari bisa kembali tersenyum seperti biasa.
Di tengah perjuangannya, Kristal harus belajar bahwa menjadi kuat bukan berarti selalu tersenyum, dan bahwa tidak apa-apa untuk mengakui bahwa dirinya sedang terluka.
Sebuah kisah mengharukan tentang luka yang tak terlihat, perjuangan seorang perempuan yang mencoba bertahan, serta perjalanan menemukan bahwa Allah selalu mendengar doa-doa yang tak mampu diucapkan oleh manusia kepada siapa pun.
Karena terkadang orang yang paling sering berkata "aku gapapa" adalah orang yang paling membutuhkan pelukan.
Dan terkadang kita memang tidak pernah benar-benar baik-baik saja.