yaodrafts
"Arsa."
"Hmm? Ada apa?"
'Nanti Aylin mau pergi jauh." Ia meletakkan sebuah earplug baru berwarna kuning duatas tangan anak laki-laki itu.
"Arsa jangan lupain Aylin, ya?"
Itu adalah kalimat terakhir yang didengar oleh Arsa sebelum akhirnya dirinya berakhir terombang-ambing diatas samudera tanpa harapan akibat kecelakaan hebat. Ayah dan ibunya sudah tiada. Mungkin sebentar lagi adalah gilirannya menjemput ajal.
Namun Tuhan berkata lain. Arsa masih diberi kesempatan melanjutkan hidup, namun Adin -adiknya- berakhir terbaring dalam koma tanpa menunjukkan tanda-tanda siuman.
Dan yang lebih mengejutkan adalah ketika ia masih dalam masa pemulihan, Aylin dikabarkan sudah meregang nyawa akibat tenggelamnya kapal pesiar yang ditumpanginya.
Arsa hanya terdiam seribu kata.
***
Delapan tahun berlalu begitu cepat semenjak kejadian itu. Arsa masih dengan rutinitasnya bersama buku pelajarannya diatas meja pojok perpustakaan. Ia memasang earplug karena kondisi hipersensitivitas telinganya akan suara bising.
Cekrek
Ia melirik cepat kearah suara itu. Matanya melebar beberapa sentimeter untuk memastikan siapa yang baru saja memotretnya diam-diam itu,
Itu hanya gadis ketua redaksi, bukan?
Siapa sebenarnya gadis yang baru saja mencoba menerobos masuk kedalam hidup laki-laki itu?
Ini tentang dua orang dengan luka yang tak pernah benar-benar sembuh. Ada yang mau tidak mau harus menghadapinya dengan hati yang besar.Ada juga yang pandangannya terhadap masa lalu dibutakan oleh dunia.