bungdolop
Sebagai arsitek, Rio terbiasa mengukur segalanya dengan presisi-termasuk saat memilih sepasang sepatu kets bersol lentur. Baginya, setiap keputusan harus berdasar hitungan yang matang. Namun, ia luput memperhitungkan sepasang mata yang mengamatinya dari sela-sela rak gerai olahraga.
Pertemuan tak terduga dengan Arini, gadis canggung yang panik mencari ponselnya, bergulir menjadi rutinitas lari pagi yang manis di taman kota. Di balik canda renyah dan obrolan yang kian lekat, benteng kewaspadaan Rio perlahan runtuh. Tanpa ia sadari, ada harga mahal yang mengintai di balik senyum polos itu.
Apakah langkah barunya ini menuju awal sebuah romansa, atau justru jebakan yang dirancang terlalu rapi?