khusnulmaruf
Ebi tahu satu hal dengan pasti : rumah bukan tempat yang aman.
Di balik dinding yang seharusnya melindunginya, hanya ada teriakan, piring pecah, dan luka yang tak pernah sempat sembuh. Ketika malam paling gelap dalam hidupnya tiba, Ebi hampir memilih untuk menyerah selamanya - sampai sepasang tangan menggenggam pergelangan tangannya tepat waktu.
Uznul. Dingin. Tegas. Dan entah kenapa, selalu datang di saat yang paling dibutuhkan.
Tiga tahun berlalu. Luka lama mengering, adiknya aman, dan hidup Ebi perlahan berkilau. Tapi satu pertanyaan masih menggantung di dadanya: apakah rumah selalu berbentuk bangunan - atau bisa jadi seseorang?
Sebuah cerita tentang bertahan, melepaskan, dan belajar bahwa pulang tidak selalu tentang tempat.