aksara_renjana_iat
Bagi Renjana Nadhira, gerbang Pondok Pesantren Al-Mukarramul Junaidiyah bukan sekadar pintu untuk menuntut ilmu, melainkan sebuah pelarian. Dari keretakan rumah tangga orang tuanya dan bayang-bayang luka masa kecil yang lebam, ia memilih berlari dan memeluk cita-cita mulia: menjadi pejuang Al-Qur'an. Namun, kehidupan di balik tembok Al-Mukarramul Junaidiyah ternyata tidak pernah sesederhana yang dibayangkan.
Di sini, Renjana menemukan dunia baru yang riuh. Dari drama perebutan tempat di antrean mandi subuh, nikmatnya makan mi rakitan di jam tiga pagi, kehangatan makan bersama di atas satu nampan, hingga perjuangan melawan kantuk luar biasa pas daras hafalan yang sering kali berujung tertidur. Tapi ketika trauma masa lalu mendadak menyusul dan menghantam jiwanya, Renjana berada di titik terendah yang paling gelap-. Sebuah insiden di dasar jurang sawit yang hampir merenggut segalanya. Di tengah stigma, bisikan sinis, dan puing-puing keputusasaan, sanggupkah Renjana bertahan dan melangkah kembali merawat hafalan hingga mahkota Al-Qur'an itu benar-benar bersinar di dadanya?.
"Mengaji di antara riuh kobong, berjuang di antara luka yang belum sembuh. Ini adalah kisah nyata tentang bertahan, bersabar, dan menemukan rumah di balik ayat-ayat suci."