jenafan
Hujan turun lebih deras dari yang diramalkan cuaca pagi itu.
Di lantai delapan sebuah gedung yang biasanya berisik oleh dering telepon dan obrolan lintas divisi, malam ini hanya menyisakan satu ruangan yang masih menyala. Cahaya dari layar laptop memantul di kaca jendela, berpadu dengan lampu kota yang buram karena hujan, membentuk siluet dua orang yang duduk berjarak-dekat, tapi tidak cukup dekat.
Ada kalimat yang sudah lama ingin diucapkan, tertahan di ujung lidah selama berminggu-minggu, mungkin berbulan-bulan. Ada juga ketakutan yang sama panjangnya, yang setiap kali datang selalu berhasil membungkam kalimat itu sebelum sempat keluar.
"Kenapa kamu selalu begini?" salah satu dari mereka akhirnya bersuara, nada yang berusaha terdengar biasa saja, meski getarnya tidak sepenuhnya bisa disembunyikan. "Diam terus. Nahan terus."
Yang lain tidak langsung menjawab. Matanya menatap hujan di luar jendela, seolah jawabannya ada di sana, di antara titik-titik air yang jatuh tanpa pola.
"Karena aku takut," jawabnya akhirnya, pelan, hampir tenggelam oleh suara hujan yang semakin deras. "Takut kalau semua yang udah aku bangun selama ini, hilang cuma karena aku akhirnya jujur."
Hening yang menyusul terasa lebih berat dari kata-kata apa pun.
Enam tahun membangun segalanya sendirian. Tiga bulan belajar percaya lagi pada seseorang.
Dan satu malam hujan yang mungkin akan menentukan apakah semua itu sepadan diperjuangkan, atau justru berakhir sebelum sempat benar-benar dimulai.
Sebelum sampai ke malam ini, ada pagi biasa yang tidak terasa istimewa sama sekali-pagi ketika semuanya masih sesederhana kopi hitam tanpa gula, dan satu nama yang belum berarti apa-apa.