Stella22246
Di usia tiga puluh tahun, Rahma Azalea Putri menjadi bahan pembicaraan seluruh keluarga besarnya.
"Masih belum menikah?"
"Kebanyakan memilih sih."
"Nanti kalau tua nyesel."
Kalimat-kalimat itu selalu menemaninya setiap kali pulang ke kampung halamannya di sebuah desa dekat Semarang.
Tak ada yang tahu bahwa wanita yang mereka sebut perawan tua itu sebenarnya adalah seorang manajer senior di perusahaan ekspor-impor internasional di Jakarta dengan penghasilan fantastis. Ia tinggal di apartemen premium yang difasilitasi perusahaan, bepergian dengan tiket pesawat yang ditanggung kantor setiap minggu, dan diam-diam membangun masa depannya melalui investasi bernilai miliaran rupiah.
Namun Rahma memilih menyembunyikan semua itu.
Bukan karena malu.
Melainkan karena ia tahu, begitu keluarganya mengetahui kenyataan tersebut, mereka tidak akan lagi bertanya kapan ia menikah. Mereka akan mulai bertanya berapa uang yang bisa mereka pinjam.
Sementara ibunya terus menjodohkannya dengan berbagai pria yang dianggap "baik", Rahma justru berkali-kali dipertemukan dengan lelaki patriarki, pemalas, pencari nafkah instan, hingga pria yang menganggap perempuan sukses adalah ancaman bagi harga dirinya.
Bagi Rahma, menikah bukan perlombaan.
Menikah adalah keputusan sekali seumur hidup.
Ia lebih memilih sendiri daripada menghabiskan sisa hidup bersama orang yang salah.
Mungkinkah Rahma bisa menemukan sosok yang diinginkannya?
Apakah ia tetap mempertahankan hidup yang selama ini ia bangun dengan susah payah?
Atau membuka pintu bagi seseorang yang mungkin memang ditakdirkan menjadi pasangan hidupnya?