wulankenanga
"Kalau cinta saja tidak cukup untuk membuat seseorang diterima, lalu apa yang harus diperjuangkan?"
Alovia pikir, setelah semua luka yang ia lewati, bersama Morgan akan menjadi rumah terakhirnya. Namun kenyataannya, cinta mereka justru berubah menjadi medan perang yang melelahkan.
Orang tua Morgan menolak keberadaan Alovia mentah-mentah. Bukan hanya karena masa lalu keluarganya, tetapi juga karena satu nama yang terus menghantui hubungan mereka; Kieva.
Alovia dituduh merebut Morgan dari seseorang yang bahkan sudah tiada.
Di tengah tatapan benci, bisikan menyakitkan, dan rasa bersalah yang perlahan menggerogoti dirinya, Alovia mulai mempertanyakan satu hal; apakah cinta mereka benar-benar layak dipertahankan?
Sementara Morgan terus menggenggam tangannya dan memintanya bertahan, Alovia justru semakin takut menjadi alasan hancurnya hubungan seorang anak dengan keluarganya.
Jika bertahan berarti terus disalahkan, dan pergi berarti kehilangan orang yang paling dicintai...
haruskah Alovia tetap berkata "iya"?