The Live and The Death : Sactrificial (VERY SLOW UPDATE)

The Live and The Death : Sactrificial (VERY SLOW UPDATE)

  • WpView
    Reads 25
  • WpVote
    Votes 4
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Feb 27, 2017
Namaku adalah Martin. Saat aku dan keluargaku sedang pergi berbelanja di sebuah mall di Jakarta, sebuah kekacauan terjadi disana dimana orang-orang berubah menjadi gila dan berubah menjadi seperti kanibal. Aku, Mama, Papa dan kakakku, Kevin berhasil selamat dan bersembunyi di sebuah gudang penyimpanan makanan di basement sambil menunggu pertolongan dari luar. Kami juga bertemu dengan dua keluarga lainnya yang berhasil selamat dan bersembunyi bersama kami di gudang. Membutuhkan tiga hari sampai akhirnya kami memutuskan untuk keluar dari sana dan mencari jalan keluar dari mall sambil menghindari serangan dari para zombie yang kelaparan. Tapi sekembali kami ke jalanan, yang kami lihat kehancuran dimana-mana, bahkan nyaris tidak ada kehidupan di luar sana, yang kami lihat hanyalah jalanan penuh darah yang diselimuti oleh zombie-zombie yang sedang kelaparan. Kami menemukan tanda pengumuman evakuasi dimana-mana, pusat evakuasi ada di Jakarta Selatan, yang menjadi tujuan kami selanjutnya. Dapatkah kami berhasil sampai dengan selamat menuju ke pusat evakuasi tersebut? Apakah masih ada harapan bagi kami agar tetap bisa bertahan hidup sampai akhir??
All Rights Reserved
#10
outbreak
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Bumi Kelabu
  • Run And Hide
  • ɪ'ʟʟ ᴛᴀᴋᴇ ᴄᴀʀᴇ ᴏꜰ ʏᴏᴜ  < Slow Up >
  • Ujung Yang Tersisa (The Edge of What Remains)
  • SHE IS MY TWINS
  • THE MALE LEADS ARE TRAPPED IN MY HOUSE
  • School scandal 1: Virus-J
  • Reset: Before the World Fell to Hell

Hampir seabad berlalu sejak perang nuklir mengakhiri peradaban. Dunia kini bukan lagi tempat bagi kehidupan, melainkan reruntuhan yang kelam dan membusuk. Langit tak lagi biru-hanya abu-abu yang pekat, menelan mentari dalam tirai kabut nuklir yang enggan sirna. Tidak ada warna yang tersisa, hanya bayangan. Kadang, jeritan datang dari kejauhan-ratapan memilukan dari mereka yang telah kehilangan jiwanya. Tangisan bercampur amarah liar, bergaung di antara puing-puing yang membisu. Lita menelusuri jejak kakaknya di dunia yang telah menelan harapan, menempuh perjalanan panjang yang penuh liku dan bahaya. Ia menyusuri kota-kota mati, hutan beku, dan jalanan sunyi yang menggema dengan langkah mereka yang masih hidup dan raungan mereka yang seharusnya sudah tiada. Di setiap persimpangan, ia menemukan dua jenis manusia-mereka yang masih menggenggam kebaikan dan mereka yang telah kehilangan kemanusiaannya. Beberapa menjadi sekutu, memberi harapan di tengah keputusasaan, sementara yang lain melihatnya sebagai mangsa. Setiap hari adalah pertarungan, bukan hanya melawan dingin, kelaparan, dan rasa takut yang terus membayanginya, tetapi juga menghadapi kengerian yang mengintai dalam gelap. Pencarian ini bukan hanya tentang menemukan kakaknya, tetapi juga tentang bertahan hidup dalam dunia yang tak memberi ampun.

More details
WpActionLinkContent Guidelines