single mother

single mother

  • WpView
    Reads 189,120
  • WpVote
    Votes 9,663
  • WpPart
    Parts 20
WpMetadataReadMatureOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Mar 25, 2018
Bagaimana perasaan mu di ceraikan saat kau sedang berbadan dua? Ditinggalkan karna kau tak cukup baik lagi dimatanya? Jika kau merasakanya, tenanglah artinya kau tak sendiri. Tapi jika kau belum pernah merasakan belajarlah dari sini. Karna satu hal yang pasti. "Cinta" saja tidaklah cukup. *** Sebisa mungkin saya buat cerita ini sesuai konsep yang saya harap. Agar para pembaca bisa menyatukan pasangan-pasangan cerita seperti puzzle
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • DALAM DETAK (SELESAI)
  • Indah di Senyum Mu
  • (Re) - Married (completed)
  • The Blooming Lady [completed]
  • SENJA UNTUK SAGARA
  • Save The Date!
  • Pelakor? Yes, I'm!
  • Ex-Lover || Warn NC 18+ || [Krist Bday Event]
  • Sepasang Sepatu Tanpa Arah [END]

[ CERITA DIPRIVASI ] Semua orang berlomba bergaya, bekerja, berkomunikasi demi mendapatkan satu rasa yang disebut; Cinta. Hingga lupa pada takdir yang tak selalu menuruti kehendak, sebab ada empunya. Kalau saja cinta selalu seindah bait puisi milik Penyair ternama, mungkin perjuangan benar tak ada artinya. Namun, lagi-lagi, konspirasi alam tak pernah memiliki jadwal. 'Ia' berputar semaunya. Mengitari manusia yang tanpa tahu malu terus berangan. Atau ... justru mendukung mereka para pesimis. Apakah ketika mencintai, kau selalu siap dengan patah hatinya? Hei, kedua hal itu adalah paket wajib yang tak akan bisa kau pilih salah satu. Percayalah, senikmat apa pun cinta yang kaurasa hari ini, kelak alam akan memintanya untuk menghancurkanmu. Menjadi kepingan raga, rasa yang hancur dan kau menderita. Apakah menakutkan? Tidak. Karena manusia selalu merasa dirinya yang terhebat. Berpikir mampu bertahan dalam duka yang teramat. Berangan mampu mengubah cinta menyiksa menjadi bahagia penuh euforia. Bukankah manusia itu makhluk paling serakah? Ia tidak pernah berpikir, kalau segala sesuatu memiliki batas. Kecuali, Sang Pencipta. Maka, beginilah ritmenya; Cinta-->Bahagia-->Jenuh-->Luka-->Mengakhiri/Memperbaiki? Selamat Membaca! Salam, Curious_ Ditulis-Diakhiri: Maret 2017

More details
WpActionLinkContent Guidelines