all i hope

all i hope

  • WpView
    Reads 233
  • WpVote
    Votes 25
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Aug 14, 2017
Arga itu milik Spica, Spica milik Arga. Spica sayang Arga, Arga juga sayang Spica. Eh, maunya sih. Tapi Arga emang sayang 'kan? Arga pernah bilang, kalau Spica itu rumah, tempat paling nyaman untuk pulang. Tapi, Spica mana mau jadi rumah. Datang hanya untuk pulang, namun seharian seenaknya berkeliaran, begitu pikirnya. Habisnya Arga itu bodoh sih, sudah jelas ada rumah yang menawarkannya kehangatan tapi masih saja suka nyasar kemana-mana, bahkan kadang lupa arah. "Katamu aku rumah. Maka, kumohon pulanglah." Pokoknya, mau Arga kehilangan rumahnya, Spica bisa kok menjadi rumah berjalan demi mencari pemilik kesayangannya. Nekat? Memang. Tapi apa jadinya kalau tuhan berkata lain? Bagaimana kalau tuhan mengirimkan badai kencang yang dapat menghancurkan si rumah? Apa Arga mesti mencari rumah yang lain?
All Rights Reserved
#829
karma
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • DANADYAKSA
  • ALEXON [END]
  • ARGANTARA [ Bersambung]
  • Inside You
  • AIRA [On Going]
  • Home
  • JATUH GAK CUMAN SEKALI

Danadyaksa adalah laki-laki dengan hidup yang sangat sederhana. Cibiran dan hinaan sering didapatkannya dari teman-teman satu sekolahnya terutama perempuan karena menggunakan sepeda motor beat berwarna hitam setiap berangkat sekolah. Orang tuanya meninggal ketika ia masih duduk di bangku SMP, meninggalkan dua orang adik yang harus Aksa hidupi. Menjadi Ayah, Ibu sekaligus kakak di usianya yang begitu belia bukanlah hal yang mudah. Aksa mulai bekerja semenjak orang tuanya meninggal untuk memenuhi kebutuhannya serta kedua adiknya yang masih kecil. Menjadi kuli bangunan, penjaga toko, pelayan restoran dan berbagai pekerjaan serabutan lainnya Aksa lakukan. Aksa pernah berkata: "Nggak papa gue nggak punya masa depan yang terjamin, tapi adek-adek gue harus punya masa depan. Harus jadi orang besar." Aksa tidak pernah memikirkan perihal cinta. Yang ia pikirkan hanyalah adik-adiknya. Bagaimana masa depan adiknya, bagaimana mendidik adiknya dengan baik dan bagaimana adiknya bisa menikmati hidup seperti anak lainnya yang penuh kebahagiaan dari keluarga. Namun, Aksa mulai tertarik dengan cinta semenjak ia mulai mengenal Alsava. Gadis yang dikenalnya sejak insiden Aksa yang tanpa sengaja menginjak kacamata Alsava. Tapi rasanya sangat tidak mungkin untuk memiliki Alsava yang latar belakang ekonominya sangat jauh beda dengan dirinya. Apakah mereka bisa bersama? Mungkin. Atau justru, tidak akan pernah bersama. ** "Sa, gue boleh suka sama lo, nggak?" "Tunggu gue sukses." ** "Gue kalo mau suka sama Alsava juga harus sadar diri. Gue orang nggak punya. Beda sama dia." ***

More details
WpActionLinkContent Guidelines