Di Balik Tembok Hijau

Di Balik Tembok Hijau

  • WpView
    Reads 99
  • WpVote
    Votes 5
  • WpPart
    Parts 4
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Apr 26, 2020
Sepulang sekolah, aku menyusuri jalan besar menuju ke rumah mungilku. Hidup di tengah daerah yang berkembang ini, di rumah mungil yang sebanding dengan ruangan OB di perusahaan di sekitar rumahku. Aku tidak pernah malu dengan keadaanku sekarang. Ayahku seorang supir angkutan umum dan ibuku tukang sapu sekolah. Aku dapat mengecap bangku SMA saat ini, karna ibuku memohon kepada sekolah tempatnya bekerja untuk memberikan bea siswa padaku. Ia mengatakan bahwa kejeniusan yang ku miliki akan sia-sia bila aku berhenti bersekolah cukup sampai SMP. Mereka menerima permohonan ibuku dengan syarat aku harus mampu mengharumkan nama sekolah tersebut. Jika aku tidak bisa maka tentu bea siswaku akan dicabut. Tentunya permohonan ibuku tidak ku sia-siakan. Nama SMA Harapan Kita terkenal di kotaku karena sering mendapatkan penghargaan Sains di negaraku. Baik olympiade secara soal atau eksperimen, namaku selalu terpampang di urutan pertama. Dan kini aku duduk di kelas XI.. (Nadira Alya)
All Rights Reserved
#64
pembelajaran
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Erlangga
  • SEMESTA TAK MERESTUI
  • Failure . ℅
  • Kepentok Cinta guru Magang (tahap Revisi)
  • Sekali Lagi (End)
  • Danielza
  • Bendahara Kelas [Completed]
Erlangga

Erlang selalu berpikir bahwa cinta adalah sesuatu yang bisa ia genggam erat. Bahwa ketika dua orang saling mencintai, mereka akan tetap bertahan, apa pun yang terjadi. Tapi nyatanya, itu hanya keyakinan naif yang perlahan hancur di hadapannya. Pacarnya pergi karena dia sudah menemukan yang baru. Semua janji, semua rencana masa depan, semuanya runtuh dalam sekejap. Erlang hanya bisa menatap kepergiannya, bertanya dalam hati, "Apa aku kurang baik?" Belum juga ia berdamai dengan kehilangan itu, takdir menamparnya lebih keras. Sahabatnya, satu-satunya orang yang mengerti dia tanpa banyak bicara, pergi-bukan karena memilih, tapi karena kehidupan memutuskan demikian. Kali ini, kepergian itu benar-benar untuk selamanya. Tidak ada kesempatan untuk meminta maaf, tidak ada lagi tawa yang bisa dibagi. Ditinggalkan oleh orang yang ia cintai, kehilangan orang yang selalu ada untuknya-Erlang berpikir, mungkinkah ia memang ditakdirkan untuk sendiri? Namun, di tengah kehancurannya, ada satu orang yang tetap di sisinya. Seseorang yang tak banyak bicara, tapi selalu tahu kapan harus mendengar. Sahabat yang tidak pernah menjanjikan apa pun, tapi selalu ada tanpa diminta. Dan dari sana, tanpa Erlang sadari, luka yang ia pikir tak akan sembuh perlahan mulai menemukan cahaya. Cinta yang ia kira sudah mati, ternyata masih punya kesempatan untuk hidup kembali. Apakah Erlang siap membuka hatinya lagi? Atau masa lalu akan terus menghantuinya?

More details
WpActionLinkContent Guidelines