Dialog Sepertiga Malam (HIATUS)

Dialog Sepertiga Malam (HIATUS)

  • WpView
    Membaca 121
  • WpVote
    Vote 4
  • WpPart
    Bab 1
WpMetadataReadBersambung
WpMetadataNoticePublikasi terakhir Min, Feb 26, 2017
Tentang alam semesta, Bumi tempat kita berpijak, hingga rerumputan yang tampak diam, semua hal diletakkan menurut tugas dan fungsinya masing-masing. Kecerdasan manusia diatur sedemikian rupa agar kita mampu menaklukkan dimensi ini. Namun apakah semua yang kita yakin kita tahu, benar adanya? Apakah alam semesta memang benar-benar kosong, hanya ada manusia? Apakah Bumi ini hanya benda stagnan yang tidak bernafas? Apakah sistem sosial yang ditetapkan sudah melampaui ekspektasi manusia untuk mengatur sesamanya? Tidak ada yang tahu secara pasti. Namun jika ingin mencari tahu, tidak ada salahnya kami bertanya dan berdialog.
Seluruh Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
#157
sains
WpChevronRight
Bergabunglah dengan komunitas bercerita terbesarDapatkan rekomendasi cerita yang dipersonalisasi, simpan cerita favoritmu ke perpustakaan, dan berikan komentar serta vote untuk membangun komunitasmu.
Illustration

anda mungkin juga menyukai

  • MISTERI PETUALANGAN DALAM LABIRIN ILUSI
  • DOA, Dialetika Orang Awam: Dari Perbatasan
  • Antheric
  • Jingga Dalam Sistem
  • Senja Tanpa Jingga
  • Song Fiction : Kemanusiaan
  • [Rombak] -Kemunculan Planet-planet Baru di Tatasurya
  • Quant (On Going)

Pernahkah Anda merasa hidup di tengah pesta topeng yang tak berkesudahan, di mana tawa bisa tiba-tiba menjelma menjadi tangis pilu, dan kemewahan menyembunyikan kemunafikan yang menggerogoti nurani? Selamat datang di dunia yang dipenuhi "Warna-warni Kepalsuan," sebuah labirin realitas yang absurd, disaksikan melalui mata seorang tokoh yang terperangkap di dalamnya. Bayangkan seorang komedian melontarkan lelucon getir yang justru mengalirkan air mata, seorang pengemis lusuh memanggul kekayaan yang kontras dengan penampilannya, dan para penguasa negeri berdebat tentang kemiskinan dari balik dinding hotel bintang lima yang gemerlap. Inilah ironi yang menjadi santapan sehari-hari di labirin ini. Namun, kepalsuan tak hanya meracuni panggung sosial. Bahkan cinta yang seharusnya suci pun ikut terdistorsi, bertransformasi menjadi tragedi prematur akibat idealisme yang membutakan dan nafsu yang membutakan. Di tengah pusaran kejanggalan ini, tokoh utama kita merasakan mual yang kian mencekik, sebuah reaksi naluriah terhadap kepura-puraan yang merajalela. Terjebak dalam labirin tanpa ujung, satu pertanyaan terus menghantuinya: di manakah gerbang menuju keaslian di tengah gemerlap kepalsuan ini? Bersiaplah untuk menyelami sebuah narasi yang akan mengusik keyakinan Anda tentang realitas, mempertanyakan setiap senyum dan air mata yang Anda lihat, dan membawa Anda dalam pencarian kebenaran yang tersembunyi di balik indahnya kebohongan. Apakah tokoh kita akan berhasil menembus "warna-warni kepalsuan" yang mengitarinya, ataukah ia akan selamanya menjadi bagian dari sandiwara tanpa akhir ini?

Detail lengkap
WpActionLinkPanduan Muatan