MONOLOG SUNYI

MONOLOG SUNYI

  • WpView
    Reads 637
  • WpVote
    Votes 11
  • WpPart
    Parts 9
WpMetadataReadMatureComplete Sat, Oct 14, 2017
Banyak yang bilang pengalaman menjadi indigo menyeramkan dan sedikit membingungkan. Well itu sih bisa di maklumi. Mereka melihat kami sebatas orang aneh, ahli terawang dan mempunyai kemampuan membaca masa depan. Itu juga bisa dimaklumi. Tapi apa yang di lihat 'mereka' dari kami? Kami adalah pendengar sejati. Kami hanya sebatas mendengarkan keluh kesah mereka. Jika kau sudah mendengar mereka bertutur, kau akan paham dunia kami -anak indigo- seperti apa dan memahami apa yang 'mereka' rasakan. Kau akan membuang jauh-jauh rasa menyeramkan dan berusaha merangkul dekap setiap pilu. Di Monolog Sunyi abe akan cerita sepenggal-sepenggal tentang kisah 'mereka'... enjoy!!!
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • MY ADORABLE NEIGHBOR
  • The Miracle
  • ROSEYANA [✓]
  • "Saat Gelap Tiba: Kumpulan Kisah Seram yang Membuat Gemetar"
  • RALILAC
  • INDIGO ACTIVITY ( Kisah Nyata )
  • INDIGO 2 ✓
  • CATATAN HARIANKU
  • Indigo Crystal 1
  • PERCAYA? [END]

Apa jadinya jika ruang gelap yang dingin dihadapi oleh benda berkilau yang hangat? pasti menakjubkan. Gadis kecil yang awalnya ogah-ogahan pindah rumah sampai tantrum berkali-kali tetapi berubah pikiran dalam waktu beberapa hari. Lira kecil menemukan hal menarik yang membuat dirinya ingin menetap, alasannya Narendra Ezra Putra. Bocah laki-laki sebrang rumahnya yang tidak pandai bersosialisai namun sangat menawan, Lira sampai jatuh hati loh. Beranjak dewasa tidak banyak mengubah sikap Aren, tetapi hubungan dan ikatan mereka tidak bisa disepelekan. Seperti saat di sekolah menengah atas. "Lira Lira!" seorang pria dengan wajah memar dan baju kusut berjongkok dihadapan Lira yang sedang berpangku tangan, dia menatap heran. "Si Narendra itu monster, engga pandai berteman dan sekarang mau jadi preman." Nada adu domba yang pekat. Lira tersenyum lebar, matanya membentuk bulan sabit, "Benarkah?" kepalanya menoleh ke arah pintu kelas, dia menghampiri laki-laki yang berdiri tegak ditengah pintu, lalu "Hebat! Aren mulai berubah perlahan." Matanya berbinar sambil mengusap rambut Aren bangga. Satu kelas ternganga, adegan macam apa ini? Orang adu jotos malah diapresiasi, arena tinju, kah? Lira mungkin lahir dengan segudang dukungan dan cinta kasih di sekelilingnya, dia tidak akan redup hanya karena satu orang meninggalkannya. Namun, Narendra bisa kehilangan cahayanya jika Lira tidak lagi memedulikannya. 22 Januari 2025💐 Cover by pinterest Edit by canva

More details
WpActionLinkContent Guidelines