Quoteskuu

Quoteskuu

  • WpView
    Membaca 443
  • WpVote
    Vote 28
  • WpPart
    Bab 11
WpMetadataReadLengkap Kam, Sep 26, 2019
Perasaan wanita
Seluruh Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
#173
quotescinta
WpChevronRight
Bergabunglah dengan komunitas bercerita terbesarDapatkan rekomendasi cerita yang dipersonalisasi, simpan cerita favoritmu ke perpustakaan, dan berikan komentar serta vote untuk membangun komunitasmu.
Illustration

anda mungkin juga menyukai

  • The Villain Mother
  • Kedhaton Soeraandaru Hadiningrat
  • DOMINEX | The Crime Lock
  • My Celestia [ON GOING]
  • Pawang Hantu Om Aktor
  • Hello, KKN!
  • I Won't Be the Tragic Fiancée (END)
  • The Last Yes!
  • Nala dan Mas Juragan
  • Be My Wife

HAPPY READING ❤️‍🔥 Nama Thania digunakan untuk interaksi luar/fisik, sedangkan nama Zeva digunakan untuk kesadaran/jiwa aslinya di dalam hati. Ini sengaja saya bedakan agar konflik batinnya lebih terasa. Selamat membaca!" --- "Eungghh..." Zeva mengerang. Hal pertama yang ia rasakan adalah kepalanya yang serasa berat dan berdenyut. Saat ia mencoba menggerakkan badan, tulang-tulangnya terasa kaku dan pegal luar biasa. "Nyonya? Nyonya Thania sudah sadar?!" sebuah suara parau penuh haru terdengar di dekat telinganya. Zeva mengerjap-erjapkan matanya yang masih buram. Begitu pandangannya fokus, ia tidak melihat langit-langit putih rumah sakit atau wajah panik orang tuanya. Alih-alih, ia menatap langit-langit kamar mewah dengan desain interior klasik yang sangat asing. "Aduh, kepala gue..." Zeva memegang keningnya, lalu menoleh ke samping. Ia terlonjak kaget melihat seorang wanita paruh baya berpakaian pelayan sedang menangis sesenggukan sambil memegang tangannya. "Akhirnya Nyonya bangun. Bibi takut sekali Nyonya kenapa-kenapa." Zeva mengernyitkan dahi. "Nyonya? Bibi?" Ia bangkit duduk dengan perlahan meski kepalanya masih berputar. Ia memandangi tangannya yang tampak lebih dewasa, lalu mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kamar yang luasnya tidak masuk akal itu. "S-siapa ya? Terus... ini di mana? Kok gue bisa di sini?" tanya Zeva dengan nada bingung sekaligus waspada. Wanita yang menyebut dirinya Bi Minah itu langsung terdiam, matanya membelalak kaget. "Nyonya... Nyonya tidak ingat saya? Ini rumah Nyonya sendiri, rumah Tuan Devan." Zeva tertegun. Nama-nama itu terasa tidak asing. Otaknya mencoba memproses informasi tersebut sampai akhirnya ia teringat buku novel yang ia lempar ke sofa tadi malam. "Bentar... jangan bilang gue masuk ke novel sampah itu?" gumam Zeva dengan wajah pucat pasi.

Detail lengkap
WpActionLinkPanduan Muatan