nafsu birahi

nafsu birahi

  • WpView
    Reads 900
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Mar 5, 2017
Seusai ganas aku puas dengan masa yang lamban datang, Bercumbu lidah menari dengan pesona gairah karbitan, Bukan ibarat rada gila ,pecah telinga mendengar sanjungan belang sikebanggaan, ampun anggun tapi menjijikan. Siang tadi riang deras hujan, Sekarang malam sunyi membingungkan Ada apa dengan si teman Tidur tegang mata melek merangsang. AKu Ingatkan ini bukan yang pertama kali Adalah kesekian kali walau tak semesti yang lain kali . Aku akui aku lahir dari sini ,sebab itu Aku menjelma sebagai pelayan untuk yang kedua kali Dan hari ini aku hadir dengan lidah propesi yang boleh jadi , pun tak cukup sampai disini ,aku janjikan esok hari aku hadir sebagai rindu birahi yang tertinggi . Hihihi , kamu jangan salah mengerti Itu adalah sebuah kerendahan hati yang termotivasi untuk bercumbu dengan tarian lidah yang lebih buas lagi.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Catatan Kecilku
  • Nalalira
  • MY LADDY BOSS  ||  HEERINA
  • Printemps
  • "ARGON" Untukmu Bidadari Hatiku
  • Hanya Rindu Dan Trauma
  • ALBARA - (Jatuh Cinta Itu Lucu)
  • We Found Another Love [Completed]

Banyak ingatan masa kecil yang sudah lenyap. Namun ada setitik momen yang melekat dalam ingatan sangat bermakna. Ibu mengajariku kata-kata yang pertama, kalimat-kalimat sederhana dengan sabar, kasih sayang, dan kegembiraan. Momen itu, menjadi kenangan yang tak terlupakan, yang terukir dalam hati dan ingatanku. Setiap kali aku mengingatnya, aku merasa seperti kembali ke masa kecilku, di mana kegembiraan dan kepolosan masih menjadi bagian dari hidupku. Ibu, yang dengan sabar dan kasih sayang mengajariku bahasa, tidak hanya mengajariku kata-kata dan kalimat, tapi juga mengajariku tentang arti cinta, kasih sayang, dan kegembiraan. Beliau mengajariku bahwa bahasa bukan hanya alat untuk berkomunikasi, tapi juga alat untuk menyampaikan perasaan dan emosi. Momen itu, menjadi inspirasi bagiku untuk selalu mengingat dan menghargai bahasa ibu, serta untuk selalu mengingat dan menghargai peran ibu dalam hidupku. Terima kasih, Ibu, atas semua yang telah kau berikan kepadaku.

More details
WpActionLinkContent Guidelines