Penantian Berharga

Penantian Berharga

  • WpView
    Reads 99
  • WpVote
    Votes 5
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadComplete Mon, Mar 6, 2017
WpInfo
Fiction
Romance
"Indah, bukan?" "Tidak lebih indah darimu." "Gombal." "Tapi suka, kan?" "Enggak, jelek!" "Terus kenapa senyum-senyum?" "Gombal kamu garing." "Loh?" "Garingnya aku suka, gombalnya enggak." "Aneh." "Tapi cinta, kan?" Aku tersenyum. Begitupun ia. Di dalam mobil berwarna putih, di bawah cahaya jingga Senja yang menjadi saksi bisu dan deburan ombak merangsang gendang telinga untuk terus mendengarnya, we're kissed. --- Tentang dia yang kerap bersatu dengan kesendirian. Menceritakan pilu bersama alam yang ternyata mendengarkan.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Cerita di Balik Senja
  • Membawa Senja
  • Senja
  • Miracolous
  • Secangkir Teh | Selesai
  • KAMU YANG KUSEBUT RUMAH (END-MASIH LENGKAP)
  • Surrogate Wife [END]

"Senjanya bagus banget," suara gadis kecil yang sedang berdiri menatap langit yang berwarna oranye dengan angin yang menyapu pelan wajahnya. "Ayah... Ayah lihat! Langit nya bagus banget," Jawab gadis kecil itu dengan senyum bak bulan sabit pada wajahnya. Laki-laki berbadan tegap dengan struktur wajah yang tidak jauh dengan gadis kecil di hadapannya, kini berjongkok untuk menyamakan tingginya dengan gadis itu. Lebih tepatnya, mereka adalah sosok ayah dan seorang anak. "Senja, Senja tahu, kenapa ayah memberi nama Senja, itu 'Senja'?" mendengar pertanyaan yang tidak bisa di jangkau oleh pikiran anak kecil yang bernama senja itu, ia hanya menggeleng. Lalu, ia bertanya " memangnya kenapa ayah?" Tanya Senja pada sang Ayah. "Karena Senja itu indah, dia juga ikhlas, dan dia selalu mengingatkan ayah pada almarhum ibu kamu, Senja." Senja mengerutkan alisnya, ia bingung dengan apa yang ayahnya ucapkan. "Senja masih nggak tahu maksud ayah." "Nggak papa sayang, saat ini Senja memang belum mengerti. Tapi nanti, Ayah yakin kamu pasti mengerti maksud ayah. Oke Langit Senja?" "Oke ayah!" Senja memeluk Ayah nya dengan erar tanpa sekat sedikitpun.

More details
WpActionLinkContent Guidelines