The Gloom

The Gloom

  • WpView
    Reads 24
  • WpVote
    Votes 6
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadMatureComplete Sun, Oct 28, 2018
Gelap.Tak ada sedikit cahaya tampak sekarang... Aku merasa ketakutan... Entah dimana sekarang aku berada. Aku berharap seseorang membawaku keluar dari sini. Sepercik cahaya muncul lalu menghilang di telan kuatnya ombak kegelapan. Kaki ku mulai kaku dan Seluruh sekujur tubuhku kini mulai di basahi oleh derasnya aliran keringat yang terus bercucuran. Tampak seseorang keluar dari tengah-tengah kegelapan. "tolonglah aku. "aku membatin. Sosok itu tidak membuatku membaik.namun,membuatku semakin terjerat dalam rasa takut. Sosok memakai jubah bewarna gelap dan membawa sebuah tongkat bermatakan palu arit.Sosok itu seperti malaikat maut yang kebanyakan di ceritakan orang. Sosok itu mendekat dan terus mendekat.Namun,kakiku tak juga terperanjat dari tempatku. Aku hanya berdiam diri disana,menunggu sosok itu menjemput ajalku. Saat jarak kami hanya sepuluh langkah sekarang. Aku mulai tergesa gesa melawan kakiku yang terus tak mau bergerak. Sosok itu berjalan lima langkah ke arahku. Aku terjatuh di tempatku dan kakiku mulai dapat bergerak. Tak pikir panjang,dengan kecepatan super dahsyat aku berlari menghindari sosok mengerikan itu. Walau aku berlari secepat kilat sekalipun.sosok itu dapat mengejarku. Dan kini aku tak bisa kemana-mana. Aku terjatuh dan kakiku terluka parah sekarang. Sosok itu mengangkat tongkatnya. Dannnnnnnnnnnnn........ *Tidakkkkkkkkkk....
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Menanti
  • CENGKRAMAN DIRGA'S
  • THREE LITTLE FOXES (END)
  • too beautiful to notice (YananTianjiarui)(END)
  • My Friend Is My Strength
  • Saturnus,Uranus,Neptunus [BXB] [BL]
  • Flight
  • Revenant: Kuntilanak Penyelamat
  • Cerita Rein (SUDAH TERBIT)
  • Suamiku Amnesia (REPOST)
Menanti

Kita berjalan tanpa ikatan dan mulai menelusuri ruang harap yang akan berakhir dengan ketulusan. Semakin berjalan menulusuri lorong itu, semakin terlihat jelas sorot mata itu melukiskan ketulusan namun satu hal yang membuatku bingung, mata yang selalu menatap dengan hangat, perlakuan hangat yang selalu hadir menemani namun tak pernah datang memberi kepastian. Ya lebih tepatnya membuka ruang harap untuk sebuah ketulusan, namun tak kunjung memberikan kepastian dan tak sanggup untuk melepas. Semakin melangkah, langkah kita semakin beriringan hingga kehadiran seseorang di ujung lorong menyapa dan membuat langkah kita terhenti. Sosok Seorang perempuan yang sudah tidak asing bagi ku sedang berdiri di ujung lorong yang tak pernah ku lalui sebelumnya memanggilnya dan membuat ku tersadar bahwa ketulusan yang selama ini ku nanti adalah sebuah fatamorgana. Kepercayaan yang ku bangun hancur berkeping keping. Saya tahu betul bahwa dia berjalan di lorong yang lain dgn sosok itu namun telah berakhri di ujung lorong. Namun semua yang dia katakan hanyalah kebohongan agar saya tetap menemaninya berjalan di lorong yg lainnya. Hingga akhirnya ku lihat dirinya yang menghampir seseorang itu di ujung lorong dan meninggalkan ku sendiri yang masih tetap terdiam menatapnya pergi menulusuri lorong lain bersama sosok yang tak asing lagi di lorong masa lalunya. Bagaiamana Lina bangkit dari ketepurukannya saat Ray memutuskan untuk berhalan menghampiri masa lalunya?

More details
WpActionLinkContent Guidelines