Aku,Kamu,dan Hujan

Aku,Kamu,dan Hujan

  • WpView
    Reads 90
  • WpVote
    Votes 7
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Mar 10, 2017
WpInfo
Fiction
Romance
Hujan datang, sirami raut wajahku dari mimpi-mimpiku, Sadarkanku bahwa siang beranjak pergi. Hujan datang, tawarkan selimut hati, Mengekang raga, menahan langkahku. Hujan, janganlah kau pergi, Aku masih rindu alunan nada-nadamu. Hujan, tetaplah kau disitu, Aku masih belum siap melihat dunia. Hujan, bergemurulah, Hingga tiada deru nafas tiada arti. Hujan, menangislah keras, Hingga tiada hatiku bersedih. Ini adalah keindahan, tapi juga tangisan. Selaksa berjalan di lorong hitam tanpa harapan. Ini adalah senjaku, hujanku dan duniaku, Cerita ini mengisahkan tentang seseorang bernama Aulia. Aulia adalah seorang remaja wanita yang duduk di bangku sekolah menengah atas. Ia tak sengaja bertemu seorang pria di sekolah menengah tempatnya mengenyam pendidikan yang terdapat di suatu jalan di daerah kota Bandung. Suatu hari pria itu bicara tentang hujan pada Aulia.Dan ternyata apa yang di bicarakan pria tersebut itu benar dan seolah olah menjadi kenyataan. Dan tetesan air hujan, menjadi saksi bisu kenangan Aulia dan Pria tersebut. Dan bagi mereka berdua Hujan merupakan Awal dari segalanya. Dan bagi mereka Hujan pun akhir dari segalanya.
All Rights Reserved
#574
bandung
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Capricorn
  • Rain-A
  • THE CLIMB [Completed]
  • After J (Complete)
  • BALADA KEHIDUPAN
  • Rain Drop (Hujanpun Tahu Bahwa Aku Merindukanmu)
  • Aksara Lingga
  • rain untuk senja
Capricorn

"Aku suka sama Kak Al." Rea mengatakannya tanpa ragu. Tenang. Pelan. Tapi dalam dadanya, jantungnya berdebar seperti genderang perang. Lapangan basket sore itu sepi. Matahari sudah tenggelam separuh, menyisakan semburat jingga yang menggantung di langit. Angin membawa bau rumput basah dan suara tiang ring basket yang berderit pelan. Di tengah sunyi itu, Rea berdiri, seragamnya masih rapi, rambutnya dikuncir seadanya, dan matanya menatap Kak Al, lurus. Alvano menoleh, pelan. Keringat masih menempel di pelipisnya, dan bola basket tergenggam di tangan kirinya. Ia diam. "Apa tadi?" tanyanya, suaranya rendah. Tidak kaget. Tapi juga tidak menjawab. Rea menarik napas. Ia benci mengulang. Tapi kali ini berbeda. "Aku suka sama Kak Al," ulangnya, lebih lirih. "Dari awal aku lihat Kakak main di lapangan. Aku tahu ini mungkin... aneh. Tapi aku cuma pengen jujur." Ia tidak terbiasa berkata seperti ini. Tidak terbiasa membeberkan isi hati. Tapi Rea bukan pengecut. Ia adalah seseorang yang lebih takut menyesal karena diam daripada malu karena gagal. "Aku tahu Kakak mungkin nggak mikir apa-apa. Tapi aku cuma pengen bilang," lanjutnya. "Supaya kalau besok-besok aku canggung atau... ngelihatin Kakak diam-diam, Kakak tahu alasannya." Sunyi. Kak Al memutar bola basket di ujung jarinya. Lalu berhenti. Tatapannya tidak tajam, tapi ada sesuatu yang menggantung di dalamnya. Berat. "Rea..." katanya. Lembut. Tapi nadanya membuat dada Rea mengeras. "Kamu manis. Kamu juga berani. Tapi..." Rea mengangguk pelan, mencoba tersenyum meski wajahnya menegang. "Aku udah punya pacar." Deg. Rea tidak menangis. Tidak mundur. Tidak bertanya siapa. Ia hanya berdiri. Diam. Lalu berkata, "Nggak apa-apa, Kak." Yang tidak dia tahu, pacar Kak Al itu... adalah Dara. Kakaknya sendiri. Dan semuanya... baru saja dimulai.

More details
WpActionLinkContent Guidelines