Menemukanmu, Jauh di Dasar Hati

Menemukanmu, Jauh di Dasar Hati

  • WpView
    Reads 384
  • WpVote
    Votes 17
  • WpPart
    Parts 5
WpMetadataReadComplete Wed, Mar 15, 2017
WpInfo
Fiction
Romance
"Sa.. Aku sayang sama kamu, Aku mulai ngerasain ini sejak pertama kali Aku ngeliat kamu.. Aku sengaja pake baju yang salah di hari pertama kita masuk smp, bukan karena Aku nggak tahu, tapi karena Aku melihat bidadari mungil yang berjalan memasuki gerbang, lalu menemukan cara untuk mengajaknya berkenalan" Yoga menatapku nanar, ade hela nafas panjang yang menyentuh daun telingaku. "Sumpah Aku nggak ngerti kenapa kamu bisa jadi seegois ini, Aku kira kamu yang paling ngerti Ga, ternyata Aku salah. Kamu cuma mikirin diri kamu, perasaan kamu !" Setelah mengeluarkan kekesalanku pada Yoga, Aku berlari menembus hujan yang malam itu kian menderas. Yoga hanya terdiam di tempatnya berdiri, seperti ada rasa bersalah yang harus dia tanggung.
All Rights Reserved
#36
bentangbelia
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Bawa Aku Pulang (End)
  • Setangkai Aster untuk Esther
  • Best Mistake [Completed]
  • Never Over [Completed]
  • Sekretaris Cantik Penakluk Hati
  • BAKPAO TELO
  • One Last Night
  • C I N (T) A (COMPLETE)
  • Random Story

By a True Story Tentang dua anak muda yang menghabiskan waktunya bersama di masa putih abu-abu. -- Ponselku bergetar. Layarnya menyala terang. Nama Widya muncul di sana. "Za. Belum tidur?" Tanyanya dalam pesan itu. Aku melirik jam yang terdapat di sudut kanan atas layar ponsel, mendapati kini sudah jam dua pagi. "Belum, kenapa, Wid?" Aku bertanya balik. "Temenin gue teleponan dong! Gue enggak bisa tidur, nih." Sebenarnya, walau berada di kamar, aku sedang sibuk bekerja dengan komputerku. Namun, sejak mengenalnya delapan tahun lalu, aku selalu saja tidak bisa menolak permintaannya. "Oke." Balasku singkat sebelum akhirnya ponselku berbunyi, ada telepon masuk darinya. "Masih kerja?" Terdengar suaranya di sebrang sana. "Udah selesai, kok." Aku terpaksa berbohong. Padahal, aku mengesampingkan pekerjaanku untuknya. "Kenapa? Kok susah tidur? Emangnya mikirin apaan?" "Enggak tau, nih. Akhir-akhir ini, rasanya susah banget tidur cepet." "Lu kebanyakan tidur siang kali? "Bisa jadi, sih. Soalnya gue tidur bangunnya agak siang. Hahaha. Omong-omong, gue ganggu, enggak?" "Ganggu? Enggak, kok." "Emang lu lagi di mana, Za?" Tanyanya. "Di kulkas." "Hahaha." Ia tertawa. Aku selalu suka mendengar tawanya. "Serius ih! Lu lagi di mana?" "Di rumah, Wid. Kenapa, sih?" "Gapapa, nanya aja." Balasnya. "Oh iya, selain kerja, lu sibuk apa lagi deh akhir-akhir ini, Za?" Tanyanya padaku. Entah apa jawabanku atas pertanyaan itu. Yang jelas, aku bicara dengannya cukup lama. Mulai dari membicarakan soal kesibukan selain pekerjaan, sampai akhirnya membicarakan masa-masa SMA, dulu. Iya, Widya adalah temanku saat masih SMA. Aku mengenalnya sejak delapan tahun lalu. Aku ingat bagaimana aku mulai mengenalnya waktu itu.

More details
WpActionLinkContent Guidelines