A Journey to be A Melody

A Journey to be A Melody

  • WpView
    Reads 41
  • WpVote
    Votes 10
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Mar 12, 2017
"Once you try to enter this fandom, you'll never find the way out." . . . . Bukan asli pemikiran sendiri sih, terinspirasi dari teman-teman Melody lain. enjoy, vote and also leave comment readers!
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • friendship of two worlds
  • SILVANNA
  • pasivura pasi! ;opet
  • 365 day with us
  • TRANSMIGRASI??BODO AMAT!!! [END]
  • revai? [𝙥𝙚𝙧𝙟𝙤𝙙𝙤𝙝𝙖𝙣 𝙎𝙈𝘼✅]
  • Rahasia Jiwa (Hiatus)

Hujan turun pelan di atas pemakaman yang sepi. Langit kelabu menggantung rendah, seolah ikut berduka. Seorang gadis berbaju hitam berdiri kaku di depan sebuah nisan. Tangannya gemetar saat menggenggam bunga putih yang mulai layu, kelopaknya basah oleh hujan-atau mungkin oleh air matanya sendiri. Ia membiarkan air mata jatuh satu per satu, tanpa berusaha menghapusnya. "Andai waktu itu gue ada di sana..." Suaranya serak, hampir tenggelam oleh angin dan rintik hujan. "Mungkin sekarang kita masih bareng, Rel. Lo masih berdiri di samping gue-cerewet, ketawa tanpa mikir, seolah dunia nggak pernah bisa nyakitin kita." Ia menunduk, bahunya bergetar. Tanah di bawah nisan itu masih basah, masih baru-seperti luka di dadanya yang belum sempat kering. "Tenang di sana, ya," bisiknya lirih. Angin berhembus pelan, menyapu rambutnya yang basah, seolah menjawab doa yang tak pernah selesai. Hari itu adalah hari pertama tanpa Aurel- hari yang tidak pernah benar-benar dimulai, karena sebagian dari dirinya ikut terkubur di sana.

More details
WpActionLinkContent Guidelines