DARA!
  • WpView
    Reads 960
  • WpVote
    Votes 78
  • WpPart
    Parts 10
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Apr 15, 2017
Tentang lika-liku nya kehidupan asmara yang penuh perjuangan dan pengorbanan. "Aku ngerasa kalau kita udah pacaran beneran. Atau cuma aku yang baper ?" Dara menunduk menatap kakinya. "Lu boleh baper kok, kan hak lu mau baper atau nggk. Tapi lebih baik kalau lu ikutin kata hati lu aja." Ucap Andra menyentuh pundak Dara dan menangkup dagu gadis itu dengan tangan kanannya agar menatapnya yang tersenyum. Dara tertegun sesaat, sebelum ia di tarik ke dalam pelukan cowok manis itu. "Buat saat ini gue maklumin lu kalau mau baper, tapi jangan lama lama ya ?" Andra. Dara memejamkan mata dan ingin berucap, namun Andra semakin mengeratkan pelukannya. *****
All Rights Reserved
#42
perbedaan
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • SKANDAL ADIK IPAR (SELESAI)
  • Side Effect: The Dilemma (END)
  • Yang Sudah Tertakar tidak akan Tertukar
  • Korban Broken Home
  • Aku yang Ada Di Antara Kalian (Sudah Revisi)
  • ANDRA
  • GAIRAH CINTA HOT DUDA (TAMAT)
  • HEARTBREAKING (On Going)
  • IHACOY [Selesai]
  • Rahara

"Rafael" kata itu meluncur dengan sendirinya. "Kamu tidak apa-apa? Apa ada yang terluka?" Tanya Rafa. Ia memperhatikan tubuh Arin, ia memastikan tidak ada terluka sedikitpun ditubuhnya. Rafa mengenal wanita berparas cantik itu. Pertama kali ia lihat bahwa itu adalah Arin, calon adik ipar. Dulu Rafa, mengenal Arin saat Arin masih kecil, kira-kira ia masih duduk di sekolah dasar, dan sekarang tumbuh sebagai wanita dewasa. Oh Tuhan, kenapa Arin tumbuh begitu cantik, kulitnya pucat seperti porselen, tidak pernah disentuh. Matanya begitu bening dan hidungnya mancung. "Saya tidak apa-apa, kesayangan, kenapa bisa hancur begini" Arin melangkah mendekati ponsel miliknya, ia memunguti satu persatu kepingan-kepingan ponsel miliknya. Kesayangan? Ternyata Arin menyebut ponsel itu dengan kata kesayangan. Rafa ingin tertawa, Rafa lalu mendekati Arin, dan ikut berjongkok memunguti kepingan-kepingan ponsel Arin yang hancur berderai. Diliriknya lagi Arin dihadapannya. "Maaf, saya akan mengganti ponsel baru untuk kamu" ucap Rafa mencoba memberi solusi. Sesungguhnya kejadian tadi bukan salah ia sepenuhnya. Arin lah yang tidak melihat arah tujuannya, Arin lebih asyik dengan layar ponsel itu. Sehingga menyebabkan adegan tebarkan itu. "Tapi, disini banyak foto-foto saya". "Yasudah nanti kita ke konter, saa yakin pihak konter tahu cara memindahkan foto-foto kamu itu" Rafa lalu berdiri, dan kembali menatap Arin. "Kamu kenapa bisa ada disini, Arin?" Tanya Rafa. "Liburan" ucap Arin ia malah menyengir. "Sendiri?". "Iya dong, sama siapa lagi". "Liburan sendiri itu tidak baik, kalau terjadi apa-apa bagaimana? Ini Bangkok loh" ucap Rafa, lalu duduk dikursi tunggu, diikuti juga oleh Arin. "Tapi, saya sudah biasa kok. Kamu kenapa ada disini?". "Saya ada urusan kerja" ucap Rafa. "Jadi gimana, handphone saya?".

More details
WpActionLinkContent Guidelines