We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.
Ha!
  • WpView
    Reads 32
  • WpVote
    Votes 1
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Mar 18, 2017
WpInfo
Fiction
Romance
Malam itu, di perhentian yang di awal hanya dirinya yang bertumpu dengan sapuan angin, hadir seorang gadis sembari menggendong boneka tanpa butir mata di mukanya. Menghampirinya tanpa satu keraguan dan mendadak memohon padanya untuk memberikan sepotong roti. Berawal dari sanalah netranya menyelami pelangi yang tertutup jeleknya semesta. Jiwanya yang monoton, tidak ada perubahan dinamis tiap harinya, lambat laun luntur bersamaan dengan canda tawa sang bocah. Tanpa potongan roti itu, jiwanya tidak akan pernah maju satu sentipun.
All Rights Reserved
#55
tunawicara
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • GERBONG KERETA, CERITA KITA✔
  • Senja
  • BRUNCH
  • Detektif Palsu: Fail Romansa Si Antibetina
  • Pada Akhirnya, Aku Pulang
  • BALAS DENDAM! ✔
  • The Dark Side(END)

Dia kelaparan, kedinginan, tanpa seorangpun di sisinya. Dia Chris---pemuda 24 tahun yang kehilangan segalanya kecuali nyawa dan sehelai baju yang melekat di badan. Pengeboman itu, menghancurkan hidupnya, masa depannya yang terancang apik di depan mata. Hingga langkahnya yang letih membawanya menaiki sebuah gerbong kereta tua yang akan membawa penumpangnya menuju pinggiran kota---tempat orang buangan berada. Ke sana lah, tujuan Chris satu-satunya. Mendudukkan diri di kursi kereta yang dingin, Chris meremas perutnya yang lapar. Ia belum makan sejak kemarin. Ia berusaha menahannya, seperti yang biasa ia lakukan, tapi gagal tatkala sepotong roti nyaris berjamur tersodor didepannya. "Ambillah. Kau pasti lapar," Seorang gadis dengan pakaian kasual cukup lusuh, menatapnya kasihan. Chris ingin menolak, namun perutnya yang kembali berbunyi enggan berkompromi. Dengan ragu dan juga malu, Chris menyambutnya. "Terimakasih," "Terimakasih nya lain kali saja. Yang terpenting sekarang adalah melarikan diri dari tanah Jahannam ini," Tanpa izin, si gadis telah mendudukkan diri di bangku bersebelahan dengan Chris yang kini tengah menyuapi diri dengan agak rakus. "Pelan-pelan saja makannya, tidak ada yang ingin mengambilnya darimu," Ia terkekeh kecil. Chris tertegun malu, lalu melambatkan kunyahan nya yang bisa dibilang tergesa, "Maaf," "Kenapa meminta maaf?" Ia berujar lembut. "Omong-omong, kita belum berkenalan. Aku Hazel, dan kau?" Spontan Chris berhenti makan. Tidak, ia tidak terkejut dengan uluran tangan si gadis yang mengajaknya bersalaman, melainkan karena pertama kalinya ada orang yang mau mengenalnya lagi setelah selama ini ia dibuang, dikucilkan, dimaki. Chris menatapnya lamat, meragu sejenak. Akankah Chris meraih uluran tangannya? Sebuah kisah sepasang insan manusia yang saling menemukan 'sungai' di kedua pelupuk netra, berlatarkan tahun 1870, San Fransisco, California. ----{GERBONG KERETA, CERITA KITA}----

More details
WpActionLinkContent Guidelines