Verrarell

Verrarell

  • WpView
    Reads 3,544
  • WpVote
    Votes 427
  • WpPart
    Parts 20
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Dec 1, 2017
WpInfo
Fiction
Romance
[Sedang diperbaiki] Bagi Verra memendam perasaan terhadap seseorang itu sebuah kekeliruan, karena sejatinya perasaan memang untuk diutarakan. Kalau hanya dipendam tanpa yang bersangkutan tahu, apa dengan menerka-nerka sudah cukup menenangkan? Atau apa dengan mengandai-andai sudah cukup memberi jawaban? Menurutnya jika bisa diungkapkan secara gamblang kenapa harus ditanggung sendirian? Perihal bagaimana tanggapan yang bersangkutan itu lain cerita. Apalagi setelah sadar kesempatan tidak datang untuk yang kedua kalinya, lebih baik tersampaikan dari pada tidak sama sekali. Maka dari itu saat ini, dengan keberanian yang sudah susah payah Verra kumpulkan, Ia dengan nekatnya menghubungi laki-laki yang sudah mengganggu pikirannya belakangan ini. "Verrel masih inget gue ngga?" "Ingetlah, kenapa lo tumben?" "Oh inget." "Ya ingetlah Verra, ada apa si?" "Kayaknya gue suka sama lo, setelah ini terserah lo mau gimana." Dia merasa lega sekaligus kalut lantaran takut dengan tanggapan laki-laki itu karena pengakuannya yang sangat tiba-tiba. Dan karena merasa belum siap menerima tanggapan apapun dari yang bersangkutan Verra justru refleks langsung memblokir kontak Verrel tanpa memikirkan hal yang akan terjadi setelahnya. Bagaimana tanggapan Verrel setelah mendapat pengakuan tiba-tiba dari Verra teman satu angkatannya? Mengabaikannya? Atau malah sebaliknya? *** Danias Silvani Copyright©2017
All Rights Reserved
#2
verra
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • GHAVARI
  • HTS (Hubungan Tentang Status)
  • SWEETHEART || A Sweet Couple ✓
  • FATAMORGANA
  • VerLanO (END)
  • Thesis Crush (✓) Sudah Terbit
  • Sosiologi Cinta (TAMAT)
  • KOMAR.
  • The Twins Story[END]√
GHAVARI

Sejak awal, Ghava tidak pernah membayangkan namanya akan berdiri di depan barisan OSIS, memakai jas hitam dengan logo sekolah di dada. Ia anak yang lebih suka duduk di belakang, bercanda dengan teman, dan pulang tepat waktu untuk sekedar berlatih basket. Semuanya berubah karena satu formulir pendaftaran yang diisi diam-diam oleh temannya. "Biar seru aja Va. Masa OSIS isinya orang itu-itu lagi," ujar temannya kala itu, sembari tertawa dan menyerahkan berkas itu ke panitia tanpa sepengetahuan Ghava. Ghava mengira itu hanya lelucon. Sampai hari pengumuman. Nama Ghava Adimas Praharja tercetak paling atas. Terpilih sebagai Ketua OSIS periode ini. Bukan karena visi misi. Bukan karena pidato yang menggelegar. Tapi karena keisengan temannya yang berujung tanggung jawab besar. Di minggu-minggu pertama, Ghava kewalahan. Rapat yang tak ada habisnya, proposal yang harus dikejar deadline, acara Porsema yang menuntut dia turun langsung sebagai pemain basket sekaligus penanggung jawab supporter. Ghava Adimas praharja benar-benar merasa sial. Karena bagaimanapun juga, pada awalnya dia pun membiarkan saja. Dia yakin, bahwa siswa siswi SMA 28 tidaklah mungkin memilihnya? Namun, kenyataannya membuat Ghava stress sendiri. *** "Mana ada kingkong seganteng gue?" Ghava menyugar rambutnya sok keren yang sontak membuat araf yang berada di sampingnya menjambak rambut pemuda itu. "Sakit bangs*t!!" Umpatnya "Shutt up! Ketua OSIS ngga boleh mengumpat, harus jadi contoh dong buat kita-kita" syaheer menyahut sembari cekikikan, tentunya disusul yang lain. Mereka begitu senang menjahili Ghava yang memang sedikit sensi. "Tai!! setan Lo semua! Keluar aja sana!! Gue ngga butuh teman kayak kalian!" *** "Gue rasa, pertemanan kita sampe sini aja," Ghava berujar, air mukanya menunjukkan keseriusan. "Apa va?? Ngga denger gue?" Syaheer pura-pura melebarkan telinganya. Ghava menghela nafasnya "Kita temenan sampe sini aja" ucapnya lagi dengan suara yang lebih keras.

More details
WpActionLinkContent Guidelines