We are "Twins"

We are "Twins"

  • WpView
    Reads 9
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Nov 1, 2018
_We are Twins_ Mereka memang kembar identik. Nggak salah kalau mereka mirip pake banget. Kalau cuma liat sekali dua kali kalian dijamin nggak bisa bedain ketiganya. Kalau untuk sifat pribadi sih mereka saling bertolak belakang. Oke kenalin ini mereka >>>cekidot>>> Arief Akbar Khalfani Dia yang di tuakan di antara ke tiganya. Kenapa? Karena dia yang keluar duluan setelah adanya negosiasi di antara ketiganya. Untuk sifat yang di milikinya pribadi sangat tepat dengan namanya "Arief = Bijaksana" Adrian Akbar Khalfani Kalau tanpa saudara kembarnya dia yang paling kalem di antara ketiganya. Nggak banyak ngomong di depan orang-orang. Stay cool. Alvian Akbar Khalfani Nah ini ni yang paling tengil di antara ke tiganya. Apapun operasi kotor yang di lakukan ke tiganya, yakinlah bahwa dia adalah otaknya. Sifat pribadi sih emang beda walaupun mereka kembar. Tapi kalau udah bersatu akan memegang prinsip yang sama "patuh dengan apa yang di katakan oleh tetuanya."
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Jejak Luka
  • TWINS [VSEUL]✔️
  • Senar Biola
  • It's Only 5 Minutes Appart (End)
  • ALRIN
  • My Twins (End)
  • Ariella & Eve ( Slow up )
  • Aku Bukan Dia ( kita Berbeda )
  • Athalia Secret. |Sudah Terbit|

Hidupnya kini seperti pelangi setelah hujan badai. Seorang anak laki-laki yang telah bertahun-tahun bergelut dengan luka dari masa lalu, kini mencoba menikmati terang yang menyapa hidupnya. Namun, bayang-bayang gelap itu tetap ada, meski samar. Orang yang pernah melukainya sudah lama tiada, membawa pergi semua kesempatan untuk meminta maaf atau menerima penjelasan. Dulu, ia tumbuh dengan hati yang penuh retakan. Kata-kata tajam, perlakuan dingin, dan ketidakpedulian menjadi keseharian yang ia hadapi. Setiap luka kecil itu perlahan menggunung, menjadi beban berat yang terus ia bawa. Ketika sosok itu pergi, ia tidak tahu apakah harus merasa lega atau justru semakin terluka karena kehilangan kesempatan untuk memperbaiki segalanya.

More details
WpActionLinkContent Guidelines