HIM by volcaeno

HIM by volcaeno

  • WpView
    LETTURE 63
  • WpVote
    Voti 12
  • WpPart
    Parti 4
WpMetadataReadIn corso
WpMetadataNoticeUltima pubblicazione mar, lug 11, 2017
" Angga dan Alea itu bagaikan Matahari dan Bulan yang saling merindukan " ucap salah satu senior yang menyukai Alea sekaligus rival Anggarda, Haidar. kepada kakak Anggarda yang juga karibnya, Nando. Nando hanya melihatnya tajam sambil memakan sandwich yang dibelinya dikantin. Ucapannya begitu lirih. sungguh jelas bahwa Haidar sangat mencintai Alea, namun justru sebaliknya Alea menganggap Haidar hanya sebagai temannya dan tak lebih dari itu. Kemudian ia melanjutkan perkataannya, "Matahari memberikan cahayanya untuk bulan agar bulan dapat menyinari bumi dengan terang, tanpa Marahari, Bulan tak akan bisa menerangi bumi. begitu pula dengan Angga dan Alea. Angga memberikan perasaannya yang tulus untuk Alea, tanpa Angga, Alea begitu rapuh tak berdaya"
Tutti i diritti riservati
Entra a far parte della più grande comunità di narrativa al mondoFatti consigliare le migliori storie da leggere, salva le tue preferite nella tua Biblioteca, commenta e vota per essere ancora più parte della comunità.
Illustration

Potrebbe anche piacerti

  • Aku Yang Selalu Diremehkan
  • ARGA
  • Melati dan Senyum Arjuna [End]
  • Red string theory
  • Puisi Cinta [END]
  • ice bear kesayangan
  • AgAr (Agra Dan Ara)
  • Falling into the World of Modeling

Angga, seorang remaja pendiam yang gemar menggambar, selalu dianggap tidak berguna oleh ayahnya yang keras dan otoriter. Dalam keluarga yang mengagungkan prestasi akademik dan kesuksesan finansial, minat Angga terhadap seni dianggap sebagai hal sepele yang tidak memiliki masa depan. Hari demi hari, Angga dihujani kata-kata kasar dan sindiran yang menorehkan luka di hatinya. Di sekolah, Angga juga bukan siapa-siapa. Ia adalah bayangan yang tak terlihat, seorang anak yang duduk di pojok kelas, diam tanpa suara. Hanya secarik kertas dan pensil yang menjadi sahabat setianya. Namun, dalam dunia sketsa hitam-putih itu, Angga merasa bebas. Ia bisa menciptakan dunia yang ia inginkan - dunia di mana ia adalah pahlawan utama yang tak tertandingi. Namun, semua itu berubah ketika Angga bertemu dengan seorang mentor tak terduga, seorang pelukis jalanan yang pernah merasakan pahitnya diremehkan. Lewat bimbingan mentornya, Angga mulai menemukan kekuatan dalam dirinya. Ia belajar bahwa setiap goresan pensilnya adalah suara yang tak lagi bisa diabaikan. Seiring waktu, Angga mulai menunjukkan kemampuannya. Namun, ketika kesempatan besar datang - sebuah kompetisi seni bergengsi - Angga harus memilih antara mengejar mimpinya atau tetap tunduk pada bayangan sang ayah. Akankah Angga berhasil membuktikan bahwa ia lebih dari sekadar bayangan, atau justru tenggelam semakin dalam dalam cemoohan dan keraguan?

Più dettagli
WpActionLinkLinee guida sui contenuti