Hilang yang Tak Usai: Saat Kehilangan Menjadi Nyata, atau Mungkin Hanya Ilusi
Cassandra Aveline lelah. Lelaki itu selalu mengulang kesalahan yang sama-menyepelekan hal-hal yang penting baginya, menghindari pertengkaran dengan mengalihkan topik, lalu menghilang seolah waktu bisa memperbaiki segalanya. Tapi meski lelah, Cassandra tak pernah benar-benar bisa pergi. Setiap kali ia mencoba melepaskan, sesuatu dalam diri Elvard selalu menariknya kembali. Namun, semakin lama, ia mulai bertanya-tanya: apakah cinta memang seharusnya terasa seberat ini?
Elvard Haesten selalu kembali. Baginya, diam bukan bentuk pengabaian, melainkan caranya menjaga agar Cassandra tetap tersenyum. Ia percaya bahwa tidak semua luka harus dibicarakan, bahwa beberapa pertengkaran lebih baik diredam daripada diperuncing. Namun, yang tidak ia sadari, setiap kepergiannya justru meninggalkan luka yang lebih dalam.
Sampai akhirnya, salah satu dari mereka benar-benar menghilang.
Namun, kehilangan itu tidak sesederhana yang terlihat. Waktu mulai terasa kabur, kenangan seperti serpihan kaca yang memantulkan gambaran yang berbeda dari setiap sudut. Apakah ini akhir yang sesungguhnya, atau hanya bagian dari ilusi yang belum usai?
Siapa yang sebenarnya meninggalkan? Dan siapa yang telah hilang lebih dulu?
Karena beberapa kehilangan tak benar-benar berakhir. Beberapa cinta tetap bertahan, meski dalam bentuk yang tak lagi bisa dijelaskan.