IAN
  • WpView
    Reads 344
  • WpVote
    Votes 24
  • WpPart
    Parts 5
WpMetadataReadComplete Thu, Jun 29, 2017
Semesta ini hanya ilusiku atau intuisiku? Alampun seperti menyimpan kata - katanya dengan hembusan angin yang lembut di wajahku. Bumipun tahu bahwa aku berbicara padanya. Namun, mengapa langit bisa mendengar? Anna ingin bertanya apakah ini karma atau sebuah jalan terbaik. Bukan masalah waktu atau keadaan tapi, hatimu. Bagaimana rasanya menjadi perempuan pertama dibonceng ian? Ian selalu menjunjung tinggi kesopanannya dihadapan perempuan karena menurutnya kelak ditelapak kaki perempuan itu ada surga bagi seorang anak. Ian tidak memprioritaskan perempuan yang dicintainya karena belum menjadi istri.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Vericha Aflyn ✔️
  • Eliinaa
  • Resign From You
  • Antara dosa dan Cinta Pertama
  • Wrong Turn, Embryo!
  • TerraCotta (Completed)
  • PASSIVE VOICE (END)
  • Jovanka dan Abang Kembar
  • SHETAN
  • Milk for Rayyan

#Judul awal 180 degree.# Vericha Aflyn. Perempuan yang akan menginjak usia 17 tahun, dalam beberapa bulan lagi. Dia bukan perempuan yang haus akan popularitas, bukan pula perempuan polos. Dia hanya perempuan biasa-biasa saja, dengan kisah yang tak biasa. Dia hanya perempuan biasa, yang mendambakan bahagia. Orang baru dan cerita baru, menghiasi hari-harinya. Tuduhan, siksaan, dan cibiran ia dapatkan. Mampu kah dia bertahan? Atau harus menyerah dengan keadaan? ---------- "Jangan pergi! Ini perintah, bukan permintaan!" Icha kembali menutup matanya, membuat air mata yang tertahan di pelupuk matanya terjatuh. Dadanya semakin terasa sesak, mungkin kah dia bisa bertahan? "H-hanya sebentar!" pinta Icha dengan lemah. "Lo harus janji, bakalan bangun lagi!" Setelah itu Icha hanya mengangguk, lalu bersandar di dada Isan. "Lo y-yang harus bangunin gue." Isan mengelus rambut Icha lembut, hati Isan terasa di cubit, saat dia dapat mendengar suara nafas Icha yang teratur. Isan meraih tangan kanan Icha, dan langsung menempelkan di dadanya. Mencoba memberi tahu Icha, tentang keadaan hatinya. Tak berselang lama, Isan di buat terkejut. Debaran jantungnya terasa berhenti, dengan nafas yang tercekat. Tangan Icha jatuh begitu saja di pahanya, nafasnya pun terputus-putus. Isan menggelengkan kepalanya dengan air mata yang sudah bercucuran. Dia dekap erat tubuh Icha, menahannya agar tak pergi. Matanya menatap hamparan bintang, dan indahnya bulan. Memohon keajaiban, dan meminta kesempatan. Isan berteriak lantang, menyerukan nama Icha. Memanggilnya untuk kembali. "ICHA!!"

More details
WpActionLinkContent Guidelines