Story cover for LAKUNA by intakaaaa_
LAKUNA
  • WpView
    Reads 23
  • WpVote
    Votes 5
  • WpPart
    Parts 1
  • WpView
    Reads 23
  • WpVote
    Votes 5
  • WpPart
    Parts 1
Complete, First published Mar 31, 2017
Suasana Jepang di pagi hari sungguh bertolak belakang dengan Jakarta. Rumahku yang berlokasi di Kyoto dengan suasana sejuk dan suara deburan ombak di pinggir pantai terdengar begitu merdu. Aku memejamkan mata sejenak. Namun, aku merasa seperti ada sosok bayangan pria yang seakan merangkulku dari belakang dan tiba-tiba,
 wusshhhh

Begitu mengejutkan, Aku bisa merasakan angin yang berhembus hangat dan lembut tepat di leherku. Aku langsung membuka mata, jantungku berdegup cepat dan air mataku tak dapat terbendung lagi. Ya tuhan, perasaan macam apa ini? Seakan mencekat tenggorokanku untuk tidak bersuara, tangisanku makin menjadi. 

Apa yang terjadi pada Yamanaka Mura, gadis setengah Jepang yang luar biasa menerka cerita hidupnya yang sesungguhnya?
All Rights Reserved
Sign up to add LAKUNA to your library and receive updates
or
#805general
Content Guidelines
You may also like
You may also like
Slide 1 of 10
Skenario Hati [Sudah Terbit] cover
Yesterday Lies cover
Kesempatan Kedua Mengubah Masa Depan cover
Chiisana Tenohira cover
[COMPLETED] 7 Days cover
Gay or No ? (Revision) cover
I Love My Little Sister cover
i hate you bossy!  cover
Bara & Tara cover
Aku Bukan Simpanan (Lengkap)  cover

Skenario Hati [Sudah Terbit]

9 parts Complete

Blurb: Semuanya berawal dari pertemuan tak sengaja antara Nathayas dengan seorang lelaki di sebuah KRL jurusan Stasiun Jakarta Kota. Tak menyadari bahwa dirinya salah memasuki gerbong membuat Nathayas harus berkali-kali merasakan debaran aneh di dalam hatinya setiap kali menatap senyuman khas lelaki yang berdiri di hadapannya. Tepat di hadapannya. Tak mau ambil pusing dengan segala macam ketidak sengajaan yang ditemui sepanjang perjalanannya, ia pun memutuskan untuk melupakan semuanya, termasuk melupakan senyuman yang membuatnya tak berhenti menyunggingkan senyum di bibirnya. *** "Mbak, itu masih ada yang kosong," ucap lelaki itu kemudian sambil menunjuk kursi di seberang, kulihat kursi itu diantara dua orang lelaki. Aku menggeleng pelan. Tiba-tiba lelaki itu berjalan ke arah kursi yang ditawarkan olehnya dan meminta seorang Bapak yang berada di ujung kursi untuk bergeser. Ia lalu menatapku dan kembali menyuruhku untuk duduk. Aku berjalan perlahan menghampiri lelaki itu dan duduk di ujung kursi. Sementara lelaki itu bersandar di besi yang berada di sebelahku. Aku mengamati punggungnya dari tempatku duduk. Tiba-tiba ia berputar dan meletakkan tas ranselnya di atas tempat dudukku. Ia tersenyum ramah saat melihatku masih memperhatikannya. ***