Sahabat TOEFL || Structure

Sahabat TOEFL || Structure

  • WpView
    LECTURES 5,572
  • WpVote
    Votes 49
  • WpPart
    Chapitres 1
WpMetadataReadEn cours d'écriture
WpMetadataNoticeDernière publication lun., avr. 3, 2017
WpInfo
Histoires vraies
Ngapain sih benci sama TOEFL? Emang salah dia apa? Sadar atau tidak, yang membuat kita nggak cepet move on dari tes ini adalah karena kita terbebani--kemudian jadi benci deh. Coba direnungkan bentar. Kira-kira apa sebabnya nilai kita nggak kunjung sampai di angka keramat. Iya, angka target kelulusan. Mereka aja bisa lulus, kenapa kita tidak? Ingat, bukan tidak lulus melainkan BELUM lulus saja. Lalu, gimana caranya agar lulus? Jawabannya simple sih--dan juga mainstream--tapi bener banget. Kita harus latihan, latihan dan latihan. Jangan jadikan TOEFL itu musuh, dekati dia, jadikan sahabat, kenali karakter-karakter khas model soal-soalnya. InsyaAllah nilainya tembus target. Nggak percaya? Buktikan.
Tous Droits Réservés
#17
toefl
WpChevronRight
Rejoignez la plus grande communauté de conteursObtiens des recommandations personnalisées d'histoires, enregistre tes préférées dans ta bibliothèque, commente et vote pour développer ta communauté.
Illustration

Vous aimerez aussi

  • Memories in Moon
  • Anak Sekolah||four monkey🏳️‍🌈
  • 𝓐𝓷𝓽𝓪𝓰𝓸𝓷𝓲𝓼 𝓕𝓪𝓶𝓲𝓵𝔂
  • G E L V A N
  • [End] Impossible Possibility
  • Dependency ✓ [Sudah Terbit]
  • GERALDI [SUDAH TERBIT]
  • Me Vs Adik Kelas

Gadis ini menundukkan kepala membiarkan kucuran air membelai surainya. Hujan terus menggiringku untuk bermimpi, takala ia terus menyusuri tubuhku dari rambut, hingga ujung kaki. Aku hanya diam, air ini sedikit membuat ku tenang. Aku takut, aku gelisah. Aku ingin berteriak memaki keadaan. Memaki diriku. Hujan, akan kah dirimu marah jika ku maki dengan isak ku? Akankah dirimu menerima rasa takut ku? Trauma ku? Semua kegelisahan ku? Rasa tidak percaya ku akan diri ku sendiri? Adakah yang bisa menerimaku? Bulan, jika kau jadi aku, akankah tetap setegar dirimu? Apakah hujan adalah wujud kekecewaan mu pada diri sendiri? Apakah awan yang menutupi mu adalah caramu untuk menghilang? Akankah menghilang adalah wujud lelah mu? Bersembunyi dibalik awan, apakah itu bentuk ketakutan mu seperti aku takut menghadapi kenyataan? Boleh aku jadi dirimu? Jarang di lihat mata, di nanti sebelum purnama namun di sukai saat sempurna. Bulan, pernah kah kau takut akan cacian manusia yang begitu kejam? Bahkan, bintang yang dapat kau gapai bisa saja mencela mu. Rambu dari mereka selalu menusuk nurani. Hilang akal ku, hilang kepercayaan ku. Masih normalkah jika ku bilang ingin menghilang? Masih terimakah kau jika ku bilang mereka harus lenyap?

Plus d’Infos
WpActionLinkDirectives du Contenu