Wrong Person

Wrong Person

  • WpView
    Reads 84
  • WpVote
    Votes 3
  • WpPart
    Parts 7
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Aug 30, 2018
Aku mengelap airmata dihadapannya. Ia mengebelakangkan rambutku, lalu ia menatapku dengan dalam. Tak lama matanya memerah, nyaris menangis dalam tatapanku. Ia urungkan airmatanya untuk jatuh, ia mengusap wajahnya. "Apa kamu sedih?" dengan bodohnya aku bertanya seperti itu. Dia belum menjawab, dia justru membawaku masuk kedalam kontrakan kecil miliknya. Ia hanya memegang tanganku erat, seakan tidak memberi izin untuk tidak ikut dengannya. Mulutku terbuka dan bertanya lagi, "Aku tanya kamu, Azhiel. Apa kamu sedih?" Dia menatapku lagi. "Apa kamu pikir aku gak bersedih mendengarnya, Sarah?" "Mendengar bahwa kamu akan menikah dengan pria itu besok, dan kamu masih mempertanyakan aku sedih atau tidak. Kamu sudah tau jawabannya, kenapa harus bertanya?"
All Rights Reserved
#627
funny
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Di Balik Kacamata [END]
  • Ghost or Love
  • Stay (Away)
  • Kizu
  • Just Let Me Love You
  • Silent Heart!
  • [Bukan] Couple Goals [SUDAH TERBIT]
  • [COMPLETED] 7 Days
  • Ratusan Hari Mencari Hati
  • Sexy Daddy

Hidup di perantauan, jauh dari keluarga, jauh dari rumah, selalu merasa sendiri meskipun ada banyak orang di kota metropolitan yang hampir sama padatnya dengan ibu kota. Perjalanan hidup yang tak mudah, apalagi bagi wanita yang sudah berusia lebih dari seperempat abad sepertiku. Aku kira hatiku sudah mati rasa, tapi sepertinya itu hanya praduga. Tak ada awalan berupa perjodohan maupun ta'aruf, seperti yang pernah aku jalani dulu. Hanya pertemuan alami yang tak terlepas dari kehendak Tuhan. Nyatanya tanpa ku sadari, hatiku perlahan jatuh pada seorang pria berkacamata yang awalnya bahkan tak mendapat perhatian khusus dariku. Perlahan, hal yang biasa berubah menjadi sesuatu yang tidak biasa karena terlalu sering menghabiskan waktu bersama. Satu hal yang terlambat aku sadari adalah kenyataan bahwa setiap manusia memiliki rahasia yang tak diketahui oleh manusia lainnya, begitupun dia. Sesuatu yang tersembunyi rapat di balik kacamata yang ia gunakan. Kacamata itu menjadi dinding pembatas yang menghalangi orang untuk mengetahui jati dirinya yang sesungguhnya. Pada akhirnya, pilihan tetap berada di tanganku. Mau tetap bertahan atau malah memutuskan untuk pergi?

More details
WpActionLinkContent Guidelines