Pena dan Kertas

Pena dan Kertas

  • WpView
    LECTURES 85
  • WpVote
    Votes 3
  • WpPart
    Chapitres 2
WpMetadataReadEn cours d'écriture
WpMetadataNoticeDernière publication dim., avr. 23, 2017
Pena dan kertas. 2 alat yang sangat dibutuhkan bagi Dinka untuk menulis sebuah kisah hidup yang dihadapi nya. Tidak salah bukan jika kita menuliskan kisah hidup kita? Semua tipe orang berbeda-beda. Ada yang menuangkan kisah hidupnya ke dalam cerita, ada yang menuangkannya ke dalam bentuk puisi, lagu. Dinka, tepatnya Alifya Syadinka Edelweiss, bukanlah tipe orang yang mengumbar-umbar kan masalahnya kepada publik. Alat yang Dinka butuhkan jika ingin menuangkan kisah hidupnya hanya ada 2. Pena dan kertas. Itu sudah cukup bagi Dinka.
Tous Droits Réservés
Rejoignez la plus grande communauté de conteursObtiens des recommandations personnalisées d'histoires, enregistre tes préférées dans ta bibliothèque, commente et vote pour développer ta communauté.
Illustration

Vous aimerez aussi

  • DANADYAKSA
  • Plot Twist Sang Figuran (TERBIT)
  • SUARA BIA (TAMAT)
  • ✔️Become The Main Character's Sister : Transmigration Story
  • ALGARA & ALTARA [End]✓
  • Blue Trapped In BL Novel
  • Peluk Aku, Tuan
  • TUBUH GADIS NERD [END]
  • VANIA AND BOYS LOVE NOVEL!
  • Fortiden

Danadyaksa adalah laki-laki dengan hidup yang sangat sederhana. Cibiran dan hinaan sering didapatkannya dari teman-teman satu sekolahnya terutama perempuan karena menggunakan sepeda motor beat berwarna hitam setiap berangkat sekolah. Orang tuanya meninggal ketika ia masih duduk di bangku SMP, meninggalkan dua orang adik yang harus Aksa hidupi. Menjadi Ayah, Ibu sekaligus kakak di usianya yang begitu belia bukanlah hal yang mudah. Aksa mulai bekerja semenjak orang tuanya meninggal untuk memenuhi kebutuhannya serta kedua adiknya yang masih kecil. Menjadi kuli bangunan, penjaga toko, pelayan restoran dan berbagai pekerjaan serabutan lainnya Aksa lakukan. Aksa pernah berkata: "Nggak papa gue nggak punya masa depan yang terjamin, tapi adek-adek gue harus punya masa depan. Harus jadi orang besar." Aksa tidak pernah memikirkan perihal cinta. Yang ia pikirkan hanyalah adik-adiknya. Bagaimana masa depan adiknya, bagaimana mendidik adiknya dengan baik dan bagaimana adiknya bisa menikmati hidup seperti anak lainnya yang penuh kebahagiaan dari keluarga. Namun, Aksa mulai tertarik dengan cinta semenjak ia mulai mengenal Alsava. Gadis yang dikenalnya sejak insiden Aksa yang tanpa sengaja menginjak kacamata Alsava. Tapi rasanya sangat tidak mungkin untuk memiliki Alsava yang latar belakang ekonominya sangat jauh beda dengan dirinya. Apakah mereka bisa bersama? Mungkin. Atau justru, tidak akan pernah bersama. ** "Sa, gue boleh suka sama lo, nggak?" "Tunggu gue sukses." ** "Gue kalo mau suka sama Alsava juga harus sadar diri. Gue orang nggak punya. Beda sama dia." ***

Plus d’Infos
WpActionLinkDirectives de Contenu