Petrichor

Petrichor

  • WpView
    Reads 81
  • WpVote
    Votes 4
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Apr 16, 2017
Hujan hanya mendatangkan kesialan. membuat becek dan sepatu menjadi lembab, belum lagi kalau datang saat pagi hari, terpaksa telat atau hujan-hujanan menuju sekolah. payungpun hanya melindungi bagian pinggang ke atas, pasti sepatu tetap basah. itu semua adalah anggapan tentang hujan oleh Raynald Prasetya. tapi bagi Avicenna jelas hujan adalah moment terbaik sepanjang hidupnya. terutama wangi tanah ketika hujan turun. Petrichor .
All Rights Reserved
#119
petrichor
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Tentang Hujan
  • Petrichor
  • Dear Christy [END]
  • Why You Have To
  • BI (Selesai)
  • Cheesecake| Yena x Yeonjun [END]
  • ILALANG
  • Hujan Di  Awal januari
  • bidadari hujan

Aku hanya diam, dan orang lain lalu lalang. Aku berdiri di sudut sebuah terminal, menunggu bus yang akan mengantarku berangkat ke sekolah. Mungkin tak tepat juga dikatakan menunggu bus, karena bus yang menuju ke arah sekolah sudah dari tadi berangkat, dan aku melewatkan banyak bus, menunggu hujan reda. Bukannya aku tak suka hujan, aku hanya tidak membenci hujan. Biasa saja. Hanya air yang turun dari langit, itu saja. Tapi banyak orang yang menanggapi hujan dengan berlebihan, seperti yang ada di sekitarku sekarang. Terlihat seorang ibu-ibu yang membawa dagangan yang akan dijualnya di pasar repot menutupi barangnya agar tak kebasahan. Ada seorang bapak yang mondar-mandir dan memakai telepon genggamnya, sepertinya dia seorang bos suatu perusahaan, dia terlihat memaki-maki, bukan memaki orang yang ada di seberang telepon, tetapi memaki hujan. Hujan, kau mau apa sebenarnya?

More details
WpActionLinkContent Guidelines