Saat akhir-akhir waktu ku berada di sebuah tempat yang amat indah. Ku menengadahkan kedua tangan ku dengan ku ucapkan harapan-doa ku.
Pernah ku berpikir tentang seperti apa diri ini sesungguhnya, bagaimana ia bisa seperti ini?
Terus merenungi..."
Pada
Teringat ucapan-ucapan sahabat ku, yang mereka katakan"Baiklah, apalah, inilah, itulah"
Tapi seandainya mereka tahu, bahwa itu belun tentu benar. memang, itu hanyalah penilaian mereka.
tapi sungguh akhawat, yang tahu sesungguhnya diri kita adalah kitaa pribadi.
Sampai di sini... ini adalah masa perjalanan ku.
untuk terus mengumpulkan sesuatu untuk ku bawa dalam perjalanan yang jauh kelak.
ku ingin hijrah, ku ingin istiqamah, ku ingin kebahagiaan yang kekal bersama keluarga,saudara,dan para sahabat ku kelak.
tapi entahlah... itu baru niat ku, saat ini aku sedang berjalan maju, proses, menuju niat itu.
tujuan adalah tujuan
harapan adalah keinginan
dan doa,ikhtiar ku adalah sebuah penentu.
Diri tak kuasa, hanya Ia lah yang tahu akan seperti apa diri ini selanjutnya..
teruslah berkarya, bergerak, berpikir, berdzikir
mungkin ini semua akan membantu mu
gapailah ... ^^
#SalamMisteri
maafkan LJM
Kita semu,
dan aku mungkin hanya cerita tidak menyenangkan lainnya dari cinta pertamamu yang kelabu.
Kita tiada,
seperti suara riuh dari hujan yang sia-sia.
--
[Beberapa part sengaja di-unpublish sementara karena proses revisi]
Setelah kemarin, aku memutuskan menuliskanmu dalam cerita, sebagai bentuk penerimaan terbesarku usai kehilangan. Sebelum sampai Bandung pun, aku tahu aku hanya bersembunyi dibalik kata 'setelah' dan kita yang selesai. Sementara kamu tidak pernah hilang. Meski aku sudah tahu, rasanya kau seperti waktu, sementara aku hanya pergantian dari hujanmu yang usai--pun kemaraumu yang selesai.
Aku masih bersikeras melupakan, El, mengisi hujan yang terlalu riuh dan pergantian musim yang terlalu lengang. Bandung sudah mengirimkan banyak orang-orang baru, memberitahu jika tanpa hadirmu pun, aku bisa melalui semuanya. Namun tetap saja, hatiku batu. Seluruh penuh dan kosong hanya meyakinkanku soal kamu.
Sementara bagimu, aku tidak pernah punya ruang, bukan?
Aku hanya kosong yang senang ketika kauminta menggenapkanmu paksa, memulihkanmu dari bekas luka dan cerita lama.
Sudah hampir setengah dasawarsa, dan aku memutuskan menuliskanmu dalam cerita, menulis seluruh riuh hujan yang gembira dan cerita tentang perempuan kaku yang pandai berpura-pura.
Terima kasih, El. Kau tetap manusia meneduhkan dan sungguh berharga bahkan setelah Bandung berhasil mengubah sebagian besar dari bagaimana aku melihat dunia.
[COMPLETED]