The Most Painful Tears

The Most Painful Tears

  • WpView
    LECTURAS 1,228
  • WpVote
    Votos 74
  • WpPart
    Partes 6
WpMetadataReadContinúa
WpMetadataNoticeÚltima publicación dom, may 14, 2017
Perhatikan baik-baik; -Senja yang sedang kau tunggu-tunggu itu, sebentar lagi datang, dan yaa, sudah terpampang di depan mata! Indah, 'kan? Sayangnya, sudah hilang. -Hujan yang sedang deras diluar sana itu, seolah-olah tidak akan pernah berhenti. Terlalu lebat. Tetapi lihatnya, sekarang sudah cerah kembali. -Pelangi itu..., ia selalu hadir. Setiap kali langit mendung, mungkin ingin menghibur langit, tapi setelah langit berubah cerah, kemana pelangi? Pergi. Lihatlah, semua itu bentuk kecil dari sebuah kehilangan. Dan yang harus diketahui, semuanya, apapun itu, pada akhirnya, akan lenyap. Tidak ada yang benar-benar menetap. Termasuk kamu; -Kamu, yang indah seperti senja, yang selalu memberikanku cinta seolah-olah tak pernah habis, dan selalu ada disaat aku bersedih, berjanji akan membuatku tersenyum kembali. Sayangnya, kamu ikut pergi. Sayang, tidak maukah kembali?
Todos los derechos reservados
#17
wattysindo
WpChevronRight
Únete a la comunidad narrativa más grandeObtén recomendaciones personalizadas de historias, guarda tus favoritas en tu biblioteca, y comenta y vota para hacer crecer tu comunidad.
Illustration

Quizás también te guste

  • Truth After Love, Kiara and Zaki (Tamat)
  • [END] Blind Rainbow
  • Jingga dan Senja [SUDAH TERBIT]
  • Cuaca
  • Senja dan Jingga
  • About You Radit! (Selesai + Revisi)
  • Jendela Rasa ✔
  • Diary [COMPLETED]
  • Amor Almira
  • SERENDIPITY [COMPLETED]

sebelum baca, FOLLOW dulu gasii??? "Sayangkuu, cintakuu. Gimana dengan hari ini, hm? Are you happy?" "Seru dong, senang karena ada kamu, Ka. Hehe." Dulu, setiap percakapan kecil seperti itu mampu menyulap hariku jadi lebih indah. Tapi semua itu kini tinggal kenangan. Hubungan yang manis dan penuh tawa itu akhirnya harus berakhir, bukan karena cinta kami memudar, tapi karena kenyataan terlalu pahit untuk ditelan bersama. Aku masih mencintaimu. Masih ingin mendekat, masih berharap bisa kembali. Tapi jarak ini bukan lagi tentang raga-melainkan tentang takdir yang tak mengizinkan kita bersatu. Cinta kita besar, tapi tidak cukup untuk melawan kenyataan yang tak berpihak. Banyak halangan yang kucoba lalui demi kamu, demi kita... tapi ternyata semesta punya rencana lain. Kini, aku hanya bisa menatapmu dari kejauhan. Ingin kembali, tapi tak bisa. Ingin melepaskan, tapi hatiku belum rela. Satu kejadian itu-satu hari yang mengubah segalanya-telah memutus tali yang tak terlihat namun sangat kuat mengikat kita. Jika bukan karena kejadian itu, mungkin aku masih tersesat dalam hubungan yang samar: ada, tapi tak punya peran. Dulu aku memegang peran utama di hidupmu. Sekarang? Bahkan untuk menjadi figuran pun aku tak lagi layak. Kita pernah sangat dekat, tapi kini aku tahu... melepaskan sesuatu yang sudah terasa seperti rumah tidak akan membuat segalanya membaik. Bahagia tidak selalu datang setelah menjauh. Dan seringkali, hubungan yang tampak sempurna dari luar menyimpan luka yang tak pernah terucap. Aku tak menyangka semuanya akan berakhir seperti ini. Tapi yang sudah terjadi, biarlah terjadi. Meski begitu, kenangan itu-kenangan tentang hari itu-masih terpatri jelas di pikiranku. Hari saat aku sadar... cinta saja tidak cukup.

Más detalles
WpActionLinkPautas de Contenido