The Most Painful Tears

The Most Painful Tears

  • WpView
    Reads 1,230
  • WpVote
    Votes 74
  • WpPart
    Parts 6
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, May 14, 2017
WpInfo
Fiction
Romance
Perhatikan baik-baik; -Senja yang sedang kau tunggu-tunggu itu, sebentar lagi datang, dan yaa, sudah terpampang di depan mata! Indah, 'kan? Sayangnya, sudah hilang. -Hujan yang sedang deras diluar sana itu, seolah-olah tidak akan pernah berhenti. Terlalu lebat. Tetapi lihatnya, sekarang sudah cerah kembali. -Pelangi itu..., ia selalu hadir. Setiap kali langit mendung, mungkin ingin menghibur langit, tapi setelah langit berubah cerah, kemana pelangi? Pergi. Lihatlah, semua itu bentuk kecil dari sebuah kehilangan. Dan yang harus diketahui, semuanya, apapun itu, pada akhirnya, akan lenyap. Tidak ada yang benar-benar menetap. Termasuk kamu; -Kamu, yang indah seperti senja, yang selalu memberikanku cinta seolah-olah tak pernah habis, dan selalu ada disaat aku bersedih, berjanji akan membuatku tersenyum kembali. Sayangnya, kamu ikut pergi. Sayang, tidak maukah kembali?
All Rights Reserved
#122
tears
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • LANGIT JINGGA (TAMAT)
  • Senja dan Langitnya
  • Semu [Completed]
  • [END] Blind Rainbow
  • Langit.
  • Jingga dan Senja [SUDAH TERBIT]
  • About You Radit! (Selesai + Revisi)
  • SERENDIPITY [COMPLETED]
  • SENJA JINGGA
  • ABIAN HALA

"Semua keinginan gue, gak pernah jadi kenyataan. Itu cara kehidupan menghukum gue." *** Aga, atau lebih lengkapnya Airlangga Putra Senja. Pangeran bermata kelabu paling sempurna abad ini dengan tatapan menghangatkan namun sorot mata yang terlihat begitu lelah. Ia memiliki segala yang diinginkan oleh teman-temannya. Ketampanan.Kecerdasan. Kekayaan. Bahkan kebaikan hatinya. Kecuali satu, fakta bahwa ia tak lagi memiliki minat apapun di dunia ini bahkan terhadap hidupnya sendiri. He almost perfect... Namun Caca membencinya. Tapi tunggu, sampai Aga tiba-tiba saja selalu muncul di dekatnya. Apa yang harus ia lakukan? Dan bagaimana jadinya ketika bom waktu yang terpendam dalam mata kelabu itu akhirnya meledak? Ini adalah kisah bagaimana kata-kata yang tak kau anggap berarti, terkadang mampu mendorong seseorang hingga ke tebing keputusasaan. ➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖ "BENCI BANGET!" "Gue benci sama dia. TITIK. Jangan tanya alasannya kenapa kalo gak mau tuh luka gue bikin panjang sampe ke dagu, ngerti?!"

More details
WpActionLinkContent Guidelines