Kata Pram

Kata Pram

  • WpView
    Reads 123,198
  • WpVote
    Votes 5,092
  • WpPart
    Parts 21
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, May 28, 2018
WpInfo
Fiction
Historical
"Seorang terpelajar harus bertindak secara terpelajar sejak dalam pikiran ataupun perbuatan!" Pram, panggilan yang dalam kehidupan sehari-hari ia dipanggil adalah seorang sastrawan hebat yang telah melahirkan karya-karya yang sangat luar biasa. Ia lahir di Blora, Jawa Tengah, 6 Feberuari 1925. Hampir seluruh karyanya telah diterjemahkan ke lebih dari 40 bahasa. Sangat luar biasa, betapa bangganya bangsa-bangsa Indonesia memiliki sastrawan hebat sekaliber Pramoedya Ananta Toer. Pramoedya telah menuangkan karya-karyanya dalam bentuk tulisan berupa novel, cerpen, dan artikel. Karya-karya ini berhasil melambungkan namanya dan sekelas dengan beberapa satrawan dunia. Tidak hanya sebagi penulis, Pram juga merupakan seorang tokoh demokrat sejati yang berpegang teguh dalam membela hak asasi manusia. Bentuk pembelaan terhadap hak asasi manusia ia tuangkan dalam beberapa tulisannya. Salah satu karyanya yang luar biasa dalah Tetralogi Pulau Buru yakni Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca. Keempat novel ini ia tulis ketika ia diasingkan oleh rezim Soeharto ke penjara di Pulau Buru, karena tuduhan sebagai anggota organisasi terlarang PKI, ia ditahan selama 14 tahun pada zaman Orde Baru tanpa adanya kepastian hukum dalam kasusnya. Karya pertama Pram pertama kali terbit di Australia pada saat itu, sungguh Ironis memang. Bagaimana mungkin karya anak bangsa yang seharusnya lebih dihargai dalam negeri sendiri justru diperkenalkan pertama kali oleh bangsa asing. Banyak tulisan karya Pram dibakar pada masa Orde Baru (copyright dari google) Dan disini saya membagi penggalan-penggalan kata-katanya. Selamat Membaca!
All Rights Reserved
#159
bumi
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Noer Sutinah : Bulan
  • Surat Cinta TAMAT (Asmara Dalam Rangkaian Kata)
  • Transmigrasi Adella
  • Gus Zayn : Langit Biru di Yogyakarta
  • My Duchess / End
  • Kitab Romancuk
  • Anggrek api dan Mata ketiga
  • Cinta Untuk Si Ayam Kampus
  • •-»?¿l|Meet you|l¿?«-• //End//

Laily Qamara Noer Sutinah. Diantara empat suku nama demikian, orang-orang lebih senang memanggilnya Bulan. Orang bilang, cinta mampu menguatkan segalanya. Namun bagi mereka, alasan itu ternyata semakin menyakiti, menyayat-nyayat harapan kecil yang antara padam dan menyala hanya soal ujung sebuah arang. Bulan dan Yudhas pernah percaya bahwa cinta bisa menguatkan, namun pada akhirnya mereka menyadari bahwa cinta saja tidak cukup. Bertahun-tahun dijalani, ternyata masih sama. Keterpaksaan, lalu keinginan diri untuk bersisian lebih lama. Apalah arti cinta yang mampu menguatkan itu, keputusan Yudhas dan Bulan sudah tidak bisa digugat. Mereka punya pendirian yang sama erat di atas semua rasa layak yang ada. Mereka selesai hari itu. Hari-hari selanjutnya Bulan pun belajar membuka hati pada ketabahan. Sementara bekas kepergian orang-orang tersayang masih berkelindan dalam hidupnya. Inilah kisah perjalanan seorang putri dari keluarga Noer Sutinah. Keseluruhan cerita mengisahkan proses menerima, melepaskan, dan tumbuh sebagai seorang perempuan dalam pusaran luka, harapan, dan kekuatan. Cerita fiksi ya men

More details
WpActionLinkContent Guidelines