Selama dua tahun, Aira mengunci hatinya rapat-rapat. Sejak hubungan terakhirnya hancur, ia memilih dunia maya sebagai pelarian-tempat di mana ia bisa tertawa tanpa harus menunjukkan luka, dan bisa menangis tanpa harus dilihat siapa pun. Aira percaya bahwa cinta hanyalah luka yang tertunda, sampai akhirnya ia bertemu seseorang yang membuatnya mulai merasa hidup kembali. Di balik layar ponsel, obrolan demi obrolan tumbuh menjadi harapan baru. Tapi ketika kenyataan datang menghantam, luka lama belum sembuh, luka baru justru menganga lebih dalam. Apakah Aira benar-benar mati rasa, atau ia hanya pura-pura kuat agar tidak terlihat rapuh? Dalam kisah tentang kehilangan, pencarian, dan keinginan untuk merasa utuh kembali, Aira harus memilih: tetap bertahan dalam "perayaan mati rasa"-atau membuka hatinya untuk sesuatu yang mungkin bisa menyelamatkannya... atau menghancurkannya sekali lagi.
More details