We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.
Lusy
  • WpView
    Reads 20
  • WpVote
    Votes 9
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Apr 18, 2017
WpInfo
Fiction
Romance
Lusy, ya sebut saja namaku Lusy, aku terlahir dikeluarga yang amat mengerti dengan agama atau biasa disebut panatik. Malam itu aku pergi untuk pertama kalinya mengirup udara di malam hari, aku berulang-ulang bercermin melihat diriku sendiri, siapa aku? Mengapa aku lupa dengan penutup kepalaku, ya kerudungku, perlahan aku membuka kerudungku, aku melupakan semua janji2ku pada ayah. "Maafkan aku ayah" ucapku dalam hati sambil ku buka kerudung di depan cermin yang menghadap ke arahku. Lampu-lampu itu seketika membuatku lupa akan siapa diriku, dari mana aku dilahirkan. Dan minuman-minuman itu, membuatku lupa akan semua masalalu yang membuatku tercekik akan kehidupan dunia yang aneh. Pagi itu aku lupa akan kewajibanku sebagai seorang pelajar, ketika perlahan ku buka mataku, karena kerasnya bunyi alarm yang kian berdering didekat telingaku, dan ku lihat jam di handphoneku, seketika aku langsung beranjak terbangun karena waktu menunjukan pukul 07:00 AM. "Shit aku telat!" Ucapku kesal.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Pangeran Alfiyyah [SELESAI]
  • The Crescent Moon (Moon Series #2)
  • Jejak Luka Di Bawah Langit Senja
  • senyuman dan luka.
  • Air Mata Cinta Di Teras Surga ( SELESAI )
  • Story Nisya
  • My Sister Is Mine (Werewolf)
  • WIZARD (Broken Butterfly) END
  • Si Gadis Polos

aku terbangun dari bunga tidurku. tak lama alarm hp ku terdengar dari arah meja belajarku. aku bangkit dari tempat tidurku. lalu mencari hpku yang terselip diantara beberapa tumpukan buku yang terbuka. "masih hujan?". batinku. lalu, aku mematikan alarm hp ku untuk memastikan kalau ini benar-benar suara hujan. "sudah pukul empat pagi?". gumamku. aku membuka tirai jendela kamarku, kacanya berembun. tanganku berayun menuliskan sebuah nama, "Nurrun Najma Laila". dingin sekali

More details
WpActionLinkContent Guidelines