Lusy
  • WpView
    Reads 20
  • WpVote
    Votes 9
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Apr 18, 2017
Lusy, ya sebut saja namaku Lusy, aku terlahir dikeluarga yang amat mengerti dengan agama atau biasa disebut panatik. Malam itu aku pergi untuk pertama kalinya mengirup udara di malam hari, aku berulang-ulang bercermin melihat diriku sendiri, siapa aku? Mengapa aku lupa dengan penutup kepalaku, ya kerudungku, perlahan aku membuka kerudungku, aku melupakan semua janji2ku pada ayah. "Maafkan aku ayah" ucapku dalam hati sambil ku buka kerudung di depan cermin yang menghadap ke arahku. Lampu-lampu itu seketika membuatku lupa akan siapa diriku, dari mana aku dilahirkan. Dan minuman-minuman itu, membuatku lupa akan semua masalalu yang membuatku tercekik akan kehidupan dunia yang aneh. Pagi itu aku lupa akan kewajibanku sebagai seorang pelajar, ketika perlahan ku buka mataku, karena kerasnya bunyi alarm yang kian berdering didekat telingaku, dan ku lihat jam di handphoneku, seketika aku langsung beranjak terbangun karena waktu menunjukan pukul 07:00 AM. "Shit aku telat!" Ucapku kesal.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Di Balik Nama Zella
  • Air Mata Cinta Di Teras Surga ( SELESAI )
  • Pangeran Alfiyyah [SELESAI]
  • The Crescent Moon (Moon Series #2)
  • Jatuh Diakhir [HIATUS]
  • Jejak Luka Di Bawah Langit Senja
  • DUNWICH
  • Kisah {Complete}
  • My Sister Is Mine (Werewolf)

Semua orang lihat gue sebagai sosok ceria, random, manja... tapi mereka nggak tahu betapa hancurnya gue di balik itu semua. Gue selalu menahan luka sendirian. Bukan karena nggak percaya sama orang lain, tapi karena gue nggak butuh dikasihani. Gue bisa berdiri sendiri. Rumah? Apa itu rumah? Gue bahkan nggak tahu di mana tempat gue seharusnya pulang. "Dunia emang nggak adil, ya? Gue harus ngerti semua orang, tapi nggak ada yang sadar kalau gue juga pengen dimengerti. Gue capek." Gue selalu takut ketawa terlalu puas... karena gue tahu, setelahnya pasti ada aja masalah yang bikin gue nangis lagi.

More details
WpActionLinkContent Guidelines