Silent Lover

Silent Lover

  • WpView
    Reads 79
  • WpVote
    Votes 11
  • WpPart
    Parts 8
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Nov 9, 2019
WpInfo
Fiction
Romance
" Seberapa banyakpun kata indah yang ingin ku lantunkan, tidaklah bisa. Lalu , akankah ku pendam segalanya untuk diriku sendiri ?" (Slow Update)
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • THE VIP : GOLDEN HIGH SCHOOL
  • Remind Me to Forget You [END]
  • Sore
  • Our Times (Completed)
  • I Love You
  • AGRASTIAN [On Going]
  • teman tuli & teman dengar [cth] | ✔️
  • BENCI TAPI CINTA [COMPLETED]
  • After Met Him [END]
  • MELEWATKANMU (Full Version Ready On DREAME)

Sekolah. Sekedar- ladel atau judul untuk bangunan yang menjulang tinggi yang menerima ratusan remaja yang katanya menuntut ilmu pendidikan. Apa itu sekolah? Yang ia tahu tempat ini adalah jelmaan neraka yang menggerogoti jiwa pelan-pelan. "Lo!!! Benar-benar licik!!" Teriakan itu meledak ke udara penuh emosi yang tidak bisa di jelaskan. "Hahahaha." Tertawa menggema, palsu, dan nyaring. Tangan terangkat menghapus jejak air mata gaib, padahal tidak ada air mata yang turun dari netra cokelatnya, mata itu kering tangis itu hanya sandiwara. Tawanya padam secepat kilat, seketika wajah itu berubah serius, seolah tidak pernah mengenal tawa. "Thanks for the praising to me." Wajah yang tadinya tertawa ceria langsung tergantikan dengan wajah yang berubah dingin, bahkan aura mengintimidasi mencekam lawan. "Gue nggak suka basa-basi," katanya pelan tapi menusuk. "Keluar dari sekolah ini dan point lo untuk gue! Atau......." Senyumnya miring dan beracun terukir. "Scandal lo gue sebar," tersenyum smirk. Menatap wajah gadis di depannya yang sudah pucat. "Lo ngancem gue??" Sebisa mungkin siswi bernama Velena itu terlihat berani. Ia tidak mau kelihatan takut di depan gadis dengan tai lalat di ujung mata kanannya itu. "No!" "Hanya memberikan saran," ujarnya santai." Saran gue ini bagus, nyelametin lo dari rasa malu, kedepannya."

More details
WpActionLinkContent Guidelines